<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-7691179376729983196</id><updated>2012-02-16T00:49:43.478-08:00</updated><category term='Taharah'/><category term='Cermin Hati'/><category term='Hukum Islam'/><category term='Keutamaan bulan² Islam'/><title type='text'>Kumpulan Artikel Islam</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://artikel-yusnita.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7691179376729983196/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artikel-yusnita.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>yusnita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16310528700403292730</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>15</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7691179376729983196.post-7450342000450788755</id><published>2009-06-23T20:19:00.000-07:00</published><updated>2009-06-23T22:17:51.281-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Taharah'/><title type='text'>Macam-macam air dan pembagiannya</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;1. Air yang suci dan menyucikan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Air yang demikian boleh diminum dan sah dipakai untuk menyucikan (membersihkan) benda yanglain. Yaitu air yang jatuh dari langit atau terbit dari bumi dan masih tetap (Belum berubah) keadaannya, seperti air hujan, air laut, air sumur, air ee yang sudah hancur kembali, air embun, dan air yang keluar dari mata air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;firman ALLAH dalam surat Al-anfal ayat 11 yang artinya :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Dan ALLAH meurunkan kepadamu hujan dari langit untuk menyucikan kamu dengan hujan itu." &lt;/span&gt;( Al-Anfal:11)&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Rasulullah bersabda yang artinya :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah r.a. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;telah bertanya seorang laki-laki kepada rasulullah Saw. Kata laki-laki itu, "Ya Rasulullah,kami berlayar di laut dan kami hanya membawa air sedikit, jika kami pakai air itu untuk berwudu, maka kami akan kehausan. Bolehkan kami berwudu dengan air laut?" Jawab Rasulullah , "Air laut itu sudi lagi menyucikan, bangkainya halal dimakan."&lt;/span&gt; (Riwayat limaahli hadist. menurut keterangan Tarmizi, hadist ini sahih)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tatkala Nabi Saw. ditanya bagaimana hukumnya sumur buda'ah, beliau berkata," Airnya tidak dinajisi suatu apapun,"&lt;/span&gt; (Riawayat Tarmizi dan katanya hadist hasan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan air yang tidak menghilangkan keadaan atau sfatnya" suci - menyucikan" walaupun perubahan itu terjadi pada salah satu dari semua sifatnya yang tiga (awarna, rasa, dan baunya) adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;    a.  Berubah karena tempatnya , seperti air yang tergenang atau mengalir di batu&lt;br /&gt;        belerang&lt;br /&gt;    b.  Berubah karena lama terseimpan, seperti air kolam.&lt;br /&gt;    c.  Berubah karena sesuatu yang terjadi padanya, seperti berubah disebabkan&lt;br /&gt;        ikan atau kembang.&lt;br /&gt;    d.  Barubah karena tanah yang suci, begitu juga segala perubahan yang sukar &lt;br /&gt;        memeliharanya, misalnya berubah karena daun-daunan yang jatuh dari &lt;br /&gt;        pohon-pohon yang berdekatan dengan ssumur atau tempat-tempat air itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;2. Air suci, tetapi tidak menyucikan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Zatnya suci, tetapi tidak sah dipakai untuk menyucikan sesuatu. Yang termsuk dalam bagian ini ada tiga macam air yaitu :&lt;br /&gt;    a.  Air yang telah berubah salah satu sufatnya karena bercampur dengan suatu&lt;br /&gt;        benda yang suci, selain dari perubahan yang tersebut di atas, seperti air&lt;br /&gt;        kopi, teh, dan sebagainya.&lt;br /&gt;    b.  Air sedikit, kurang dari dua kulah, sudah terpakai untuk menghilangkan hadas&lt;br /&gt;        atau menghilangkan hukum najis, sedangkan air itu tidak berubah sifatnya dan&lt;br /&gt;        tidak pula bertambah timbangannya.&lt;br /&gt;    c.  Air pohon-pohonan atau air buah-buahan, seperti air yang keluar dari tekukan&lt;br /&gt;        pohon kayu (air nira), air kelapa, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;3. air yang bernajis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Air yang termasuk bagian ini ada dua macam :&lt;br /&gt;    a.  Sudah berubah salah satu sifatnya oleh najis. Air ini tidak boleh dipakai&lt;br /&gt;        lagi, baik airnya sedikit ataupun banyak, sebab hukumnya seperti najis.&lt;br /&gt;    b.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7691179376729983196-7450342000450788755?l=artikel-yusnita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artikel-yusnita.blogspot.com/feeds/7450342000450788755/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://artikel-yusnita.blogspot.com/2009/06/macam-macam-air-dan-pembagiannya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7691179376729983196/posts/default/7450342000450788755'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7691179376729983196/posts/default/7450342000450788755'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artikel-yusnita.blogspot.com/2009/06/macam-macam-air-dan-pembagiannya.html' title='Macam-macam air dan pembagiannya'/><author><name>yusnita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16310528700403292730</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7691179376729983196.post-8898349421781898406</id><published>2009-06-21T07:20:00.000-07:00</published><updated>2009-06-21T07:38:13.629-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Taharah'/><title type='text'>BerSuci</title><content type='html'>Dalam hukum Islam, soal bersuci dan segala seluk-beluknya termasuk bagian Ilmu dan amalan yang penting, terutama karena di antara syarat-syarat shalat telah ditetapkan bahwa seseorang yang akan mengerjakan shalat diwajibkan suci dari hadas dan suci pula badan, pakaian, dan tempatnya dari Najis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Firman Allah Swt dalam surat Al-Baqarah ayat 222 yg artinya :&lt;br /&gt;"Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah:"Haidh itu adalah suatu kotoran". Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintakan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang tobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri" (Al-Baqarah: 222)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Parihal bersuci meliputi beberapa perkara berikut :&lt;br /&gt;1. Alat bersuci, seperti air, tanah, dan sebagainya&lt;br /&gt;2. Kaifiat (cara) bersuci&lt;br /&gt;3. Macam dan jenis-jenis najis yang perlu disucikan&lt;br /&gt;4. Benda yang wajib disucikan&lt;br /&gt;5. Sebab-sebab atau keadaan yang menyebabkan wajib bersuci&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersuci ada 2 bagian&lt;br /&gt;1. Bersuci dari hadas. bagian ini khusunya untuk badan, seperti mandi, berwudhu' dan tayamum.&lt;br /&gt;2. Bersuci dari najis. bagian ini berlaku pada badan, pakaian dan tempat.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7691179376729983196-8898349421781898406?l=artikel-yusnita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artikel-yusnita.blogspot.com/feeds/8898349421781898406/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://artikel-yusnita.blogspot.com/2009/06/bersuci.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7691179376729983196/posts/default/8898349421781898406'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7691179376729983196/posts/default/8898349421781898406'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artikel-yusnita.blogspot.com/2009/06/bersuci.html' title='BerSuci'/><author><name>yusnita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16310528700403292730</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7691179376729983196.post-2310411829421585374</id><published>2009-02-21T02:02:00.000-08:00</published><updated>2009-02-21T02:06:07.612-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cermin Hati'/><title type='text'>KEAJAIBAN  AL QUR'AN</title><content type='html'>Abdurrazaq Nawfal, dalam Al-Ijaz Al-Adabiy li Al-Qur'an Al-Karim yang terdiri dari tiga jilid, mengemukakan sekian banyak contoh tentang keseimbangan dalam Al quran, yang dapat kita simpulkan secara sangat singkat sebagai berikut.&lt;br /&gt;A. Keseimbangan antara jumlah bilangan kata dengan antonimnya. Beberapa contoh, di antaranya:&lt;br /&gt;• Al-hayah (hidup) dan al-mawt (mati), masing-masing sebanyak 145 kali; &lt;br /&gt;• Al-naf' (manfaat) dan al-madharrah (mudarat), masing-masing sebanyak 50 kali; &lt;br /&gt;• Al-har (panas) dan al-bard (dingin), masing-masing 4 kali; &lt;br /&gt;• Al-shalihat (kebajikan) dan al-sayyi'at (keburukan), masing-masing 167 kali; &lt;br /&gt;• Al-Thumaninah (kelapangan/ketenangan) dan al-dhiq (kesempitan/kekesalan), masing-masing 13 kali; &lt;br /&gt;• Al-rahbah (cemas/takut) dan al-raghbah (harap/ingin), masing-masing 8 kali; &lt;br /&gt;• Al-kufr (kekufuran) dan al-iman (iman) dalam bentuk definite, masing-masing 17 kali; &lt;br /&gt;• Kufr (kekufuran) dan iman (iman) dalam bentuk indifinite, masing-masing 8 kali; &lt;br /&gt;• Al-shayf (musim panas) dan al-syita' (musim dingin), masing-masing 1 kali. &lt;br /&gt;B. Keseimbangan jumlah bilangan kata dengan sinonimnya/makna yang dikandungnya.&lt;br /&gt;• Al-harts dan al-zira'ah (membajak/bertani), masing-masing 14 kali; &lt;br /&gt;• Al-'ushb dan al-dhurur (membanggakan diri/angkuh), masing-masing 27 kali; &lt;br /&gt;• Al-dhallun dan al-mawta (orang sesat/mati [jiwanya]), masing-masing 17 kali; &lt;br /&gt;• Al-Qur'an, al-wahyu dan Al-Islam (Al-Quran, wahyu dan Islam), masing-masing 70 kali; &lt;br /&gt;• Al-aql dan al-nur (akal dan cahaya), masing-masing 49 kali; &lt;br /&gt;• Al-jahr dan al-'alaniyah (nyata), masing-masing 16 kali. &lt;br /&gt;C. Keseimbangan antara jumlah bilangan kata dengan jumlah kata yang menunjuk kepada akibatnya.&lt;br /&gt;• Al-infaq (infak) dengan al-ridha (kerelaan), masing-masing 73 kali; &lt;br /&gt;• Al-bukhl (kekikiran) dengan al-hasarah (penyesalan), masing-masing 12 kali; &lt;br /&gt;• Al-kafirun (orang-orang kafir) dengan al-nar/al-ahraq (neraka/ pembakaran), masing-masing 154 kali; &lt;br /&gt;• Al-zakah (zakat/penyucian) dengan al-barakat (kebajikan yang banyak), masing-masing 32 kali; &lt;br /&gt;• Al-fahisyah (kekejian) dengan al-ghadhb (murka), masing-masing 26 kali. &lt;br /&gt;D. Keseimbangan antara jumlah bilangan kata dengan kata penyebabnya.&lt;br /&gt;• Al-israf (pemborosan) dengan al-sur'ah (ketergesa-gesaan), masing-masing 23 kali; &lt;br /&gt;• Al-maw'izhah (nasihat/petuah) dengan al-lisan (lidah), masing-masing 25 kali; &lt;br /&gt;• Al-asra (tawanan) dengan al-harb (perang), masing-masing 6 kali; &lt;br /&gt;• Al-salam (kedamaian) dengan al-thayyibat (kebajikan), masing-masing 60 kali. &lt;br /&gt;E. Di samping keseimbangan-keseimbangan tersebut, ditemukan juga keseimbangan khusus.&lt;br /&gt;(1) Kata yawm (hari) dalam bentuk tunggal sejumlah 365 kali, sebanyak hari-hari dalam setahun. Sedangkan kata hari yang menunjuk kepada bentuk plural (ayyam) atau dua (yawmayni), jumlah keseluruhannya hanya tiga puluh, sama dengan jumlah hari dalam sebulan. Disisi lain, kata yang berarti "bulan" (syahr) hanya terdapat dua belas kali, sama dengan jumlah bulan dalam setahun. &lt;br /&gt;(2) Al-Quran menjelaskan bahwa langit ada "tujuh." Penjelasan ini diulanginya sebanyak tujuh kali pula, yakni dalam ayat-ayat Al-Baqarah 29, Al-Isra' 44, Al-Mu'minun 86, Fushshilat 12, Al-Thalaq 12, Al-Mulk 3, dan Nuh 15. Selain itu, penjelasannya tentang terciptanya langit dan bumi dalam enam hari dinyatakan pula dalam tujuh ayat.&lt;br /&gt;(3) Kata-kata yang menunjuk kepada utusan Tuhan, baik rasul (rasul), atau nabiyy (nabi), atau basyir (pembawa berita gembira), atau nadzir (pemberi peringatan), keseluruhannya berjumlah 518 kali. Jumlah ini seimbang dengan jumlah penyebutan nama-nama nabi, rasul dan pembawa berita tersebut, yakni 518 kali.&lt;br /&gt;(4)  Kata lautan (al bahar) disebutkan 32 kali sedangkan kata daratan (al bar) disebutkan 13 kali. Jika di jumlahkan perkataan yang berkaitan tentang "lautan" dan "daratan" adalah 45 perkataan. Seperti pengiraan berikut : &lt;br /&gt;Lautan : 32/45 X 100% = 71.11111111% &lt;br /&gt;Daratan : 13/45 X 100% = 28.88888888%&lt;br /&gt;Kini telah kita ketahui peratusan bagi "Lautan" dan "Daratan" di dalam dunia ini sebagaimana yang di sebutkan di dalam kitab sici Al Quran. &lt;br /&gt;(5)  [Quran 3:59]&lt;br /&gt;Sesungguhnya persamaan "Isa" di sisi Allah seperti persamaan "Adam".&lt;br /&gt;Kata "Isa" dan "Adam" sama-sama muncul 25 kali.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;(6)  [Quran 7:176]&lt;br /&gt;"anjing" dengan "kaum yang mendustakan ayat-ayat Kami" Maka persamaannya ialah :&lt;br /&gt;bahwa "kaum yang mendustakan ayat-ayat Kami" (al-qawmul-ladzi_na kadz-dabu_ bi a_ya_tina_) dipersamakan/ diibaratkan kelakuannya seperti seekor&lt;br /&gt;"anjing" (kalb). jika kamu menghalaunya, ia menjulurkan lidahnya, atau jika kamu membiarkannya, ia menjulurkan lidahnya juga."Anjing" (kalb) tertulis 5 kali sebagaimana kata "Kaum yang mendustakan ayat-ayat Kami" (al-qawmul-ladzi_na kadz-dabu_ bi a_ya_tina_) tertulis 5 kali juga &lt;br /&gt;(7)  [Quran 29:41]&lt;br /&gt;Persamaan "orang-orang yang mengambil untuk mereka wali-wali selain daripada Allah" (alladzi_nat-takhadzu_ mindu_nil-laahi), ialah seperti persamaan "laba-laba" (al-'ankabu_t). Laba-laba (al-'ankabu_t) tertulis 2 kali, "Orang-orang yang mengambil untuk mereka wali-wali selain daripada Allah" (alladzi_nat-takhadzu_ mindu_nil-laahi) tertulis 2 kali juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(8)  [Quran 62:5]&lt;br /&gt;Persamaan "orang-orang yang dibebankan dengan Taurat",kemudian mereka tidak memikulnya adalah seperti persamaan "seekor keledai" yang memikul buku-buku yang tebal. "Keledai" (al-hima_r) dan "orang-orang yang dibebankan&lt;br /&gt;dg taurat" (al-ladzi_na humilut-tawra_t) sama-sama muncul di ayat ini, yaitu hitungannya sama-sama satu kali muncul.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;-- Berkaitan dengan pertidaksamaan matematik --&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam Quran, dijumpai hint tentang pertidaksamaan ketika ada ayat yang menyatakan "Adakah sama antara A dan B (hal yastawi_ A wa B?), sebagaimana ditemukan dalam beberapa ayat. Tentunya, kita akan berfikiran&lt;br /&gt;bahwa tentu saja kemungkinan (probabilitas) ketidaksamaan jumlah antara A dan B adalah sangat besar, akan tetapi anehnya, jika kita temukan ayat yang menyatakan ketidaksamaan antara A dan B, diketahui bahwa perbedaan jumlah antara A dan B adalah TEPAT SATU. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Contoh:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;[Quran 4:95]&lt;br /&gt;Tidaklah sama antara "mu'min yang duduk [yang tidak ikut berperang] yang tidak mempunyai "uzur"" (al-qa_idu_n) dengan "orang-orang yang berjihad di&lt;br /&gt; jalan Allah" (al-muja_hidu_n) ... &lt;br /&gt;Jumlah kemunculan (al-qa_idu_n) / (al-qa_idi_n) = 4&lt;br /&gt;Jumlah kemunculan (al-muja_hidu_n) / (al-muja_hidi_n) = 3&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;[Quran 6:50]&lt;br /&gt;.. Apakah sama "orang yang buta" (al-a'ma_) dengan "orang yang melihat" (al-bashi_r)? Maka apakah kamu tidak memikirkan(nya)?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah kemunculan  (al-a'ma_)  = 8&lt;br /&gt;Jumlah kemunculan (al-bashi_r) = 9&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;[Quran 13:16]&lt;br /&gt;.. Adakah sama orang buta dan yang dapat melihat, atau samakah "gelap gulita" (adz-dzuluma_t) dan "terang benderang" (an-nu_r) ...&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Jumlah kemunculan (adz-dzuluma_t) = 14&lt;br /&gt;Jumlah kemunculan  (an-nu_r)      = 13&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ada sedikit kejanggalan terhadap fenomena ini di Quran 5:100, yang dijelaskan sebagai berikut:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;[Quran 5:100]&lt;br /&gt; .. :Tidak sama "yang buruk" (al-khabi_ts) dengan"yang baik" (at-thayyib), meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, ... &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Catat akhir ayat di atas, bahwa:&lt;br /&gt;"banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, ... "&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ternyata, jumlah kata (al-khabi_ts) dengan (at-thayyib" adalah SAMA, yaitu 7 kali kemunculan. Penjelasan dari kejanggalan ayat ini ditemukan di Quran 8:37 yang menyatakan:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;[Quran 8:37]&lt;br /&gt;Supaya Allah memisahkan yang buruk daripada yang baik, dan "supaya Dia meletakkan yang buruk, sebahagiannya di atas sebahagian yang lain", ...&lt;br /&gt;Di ayat ini, dikatakan bahwa Dia meletakkan "yang buruk" (al-khabi_ts) sebahagian di atas sebahagian yang lainnya, sehingga jumlahnya seakan-akan bertambah (seakan-akan sama, yakni sama-sama muncul 7 kali).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Demikianlah sebagian dari hasil penelitian yang kita rangkum dan kelompokkan ke dalam bentuk seperti terlihat di atas.&lt;br /&gt;Kedua adalah pemberitaan-pemberitaan gaibnya. Fir'aun, yang mengejar-ngejar Nabi Musa., diceritakan dalam surah Yunus. Pada ayat 92 surah itu, ditegaskan bahwa "Badan Fir'aun tersebut akan diselamatkan Tuhan untuk menjadi pelajaran generasi berikut." Tidak seorang pun mengetahui hal tersebut, karena hal itu telah terjadi sekitar 1200 tahun S.M. Nanti, pada awal abad ke-19, tepatnya pada tahun 1896, ahli purbakala Loret menemukan di Lembah Raja-raja Luxor Mesir, satu mumi, yang dari data-data sejarah terbukti bahwa ia adalah Fir'aun yang bernama Maniptah dan yang pernah mengejar Nabi Musa a.s. Selain itu, pada tanggal 8 Juli 1908, Elliot Smith mendapat izin dari pemerintah Mesir untuk membuka pembalut-pembalut Fir'aun tersebut. Apa yang ditemukannya adalah satu jasad utuh, seperti yang diberitakan oleh Al-Quran melalui Nabi yang ummiy (tak pandai membaca dan menulis itu). Mungkinkah ini?&lt;br /&gt;Setiap orang yang pernah berkunjung ke Museum Kairo, akan dapat melihat Fir'aun tersebut. Terlalu banyak ragam serta peristiwa gaib yang telah diungkapkan Al-Quran dan yang tidak mungkin dikemukakan dalam kesempatan yang terbatas ini.&lt;br /&gt;Ketiga, isyarat-isyarat ilmiahnya. Banyak sekah isyarat ilmiah yang ditemukan dalam Al-Quran. Misalnya diisyaratkannya bahwa "Cahaya matahari bersumber dari dirinya sendiri, sedang cahaya bulan adalah pantulan (dari cahaya matahari)" (perhatikan QS 10:5); atau bahwa jenis kelamin anak adalah hasil sperma pria, sedang wanita sekadar mengandung karena mereka hanya bagaikan "ladang" (QS 2:223); dan masih banyak lagi lainnya yang kesemuanya belum diketahui manusia kecuali pada abad-abad bahkan tahun-tahun terakhir ini. Dari manakah Muhammad mengetahuinya kalau bukan dari Dia, Allah Yang Maha Mengetahui!&lt;br /&gt;Kesemua aspek tersebut tidak dimaksudkan kecuali menjadi bukti bahwa petunjuk-petunjuk yang disampaikan oleh Al-Quran adalah benar, sehingga dengan demikian manusia yakin serta secara tulus mengamalkan petunjuk-petunjuknya&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7691179376729983196-2310411829421585374?l=artikel-yusnita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artikel-yusnita.blogspot.com/feeds/2310411829421585374/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://artikel-yusnita.blogspot.com/2009/02/keajaiban-al-quran.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7691179376729983196/posts/default/2310411829421585374'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7691179376729983196/posts/default/2310411829421585374'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artikel-yusnita.blogspot.com/2009/02/keajaiban-al-quran.html' title='KEAJAIBAN  AL QUR&apos;AN'/><author><name>yusnita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16310528700403292730</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7691179376729983196.post-6105321548261775990</id><published>2009-01-29T00:19:00.000-08:00</published><updated>2009-01-29T00:22:55.202-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cermin Hati'/><title type='text'>BALASAN SURGA BAGI PARA WANITA</title><content type='html'>Keadaan wanita di dunia ini tidaklah lebih dari:&lt;br /&gt;• Mereka meninggal sebelum sempat menikah.&lt;br /&gt;• Mereka meninggal setelah diceraikan suaminya, dan belum sempat menikah dengan yang lain.&lt;br /&gt;• Mereka telah menikah, akan tetapi suaminya tidak bersamanya di surga, semoga Allah SWT melindungi kita dari hal ini.&lt;br /&gt;• Mereka meninggal setelah suaminya meninggal.&lt;br /&gt;• Suaminya meninggal dan mereka tetap tidak bersuami baru hingga meninggalnya.&lt;br /&gt;• Suaminya meninggal kmudian merekapun dinikahi oleh laki-laki lain. &lt;br /&gt;Keadaan di atas masing-masing kelak akan mempunyai balasan tersendiri saat mereka di surga sebagai berikut:&lt;br /&gt;Wanita yang meninggal sebelum sempat menikah, maka Allah SWT akan menikahkan mereka di surga dengan seorang laki-laki dari penduduk dunia, ini berdasarkan sabda Rasulullah saw.:&lt;br /&gt;"Di surga tidaklah ada orang yang membujang (tidak memiliki pasangan."(Hr. Muslim).&lt;br /&gt;Syeikh Ibn 'Utsaimin berkata: "Apabila seseorang belum menikah, yaitu seorang wanita di dunia ini, maka sesungguhnya Allah SWT akan menikahkan dengan laki-laki yang ia sukai di surga. Karena kenikmatan surga tidaklah hanya khusus untuk laki-laki saja, akan tetapi semuanya adalah juga untuk laki-laki dan wanita termasuk bentuk kenikmatan (surga) adalah perkawinan."(Al-Majmu' al-Tsamin, 1/175).&lt;br /&gt;Dan juga seperti mereka yang meninggal setelah diceraikan, wanita yang suaminya tidak masuk surga. Syeikh Ibn 'Utsaimin berkata: "Seorang apabila termasuk ahli surga dan belum menikah atau suaminya tidak termasuk ahli surga, maka sesungguhnya bila ia masuk surga, di sana akan ada laki-laki ahli surga yang akan memperisterinya." (Al-Majmu' al-Tsamin, 1/173) Maksudnya akan menikah dengan salah seorang dari mereka.&lt;br /&gt;Wanita yang meninggal setelah sempat menikah, maka saat di surga ia untuk suaminya yang dahulu.&lt;br /&gt;Wanita yang suaminya meninggal kemudian tetap tidak menikah setelah kematian suaminya hingga ia pun meninggal, maka ia akan tetap menjadi isterinya di surga.&lt;br /&gt;Wanita yang suaminya meninggal dan kemudian menikah dengan laki-laki lain, maka ia untuk suami yang paling terakhir, walaupun sempat menikah berkali-kali, berdasarkan sabda Rasulullah saw.:&lt;br /&gt;"Wanita adalah untuk suami terakhirnya."(Silsilah al-Ahadits al-Shahihah li al-Albani, 1281). &lt;br /&gt;Dan berdasarkan perkataan Hudzaifah ra. kepada isterinya: "Jika kamu tetap ingin menjadi isteriku di surga, maka janganlah menikah dengan siapapun sepeninggalku. Sesungguhnya wanita saat di surga adalah untuk suami terakhirnya di duania karena itulah Allah SWT pun mengharamkan isteri-isteri Nabi untuk dinikahi oleh orang lain sepeninggalnya, karena mereka itu kelak akan menjadi isteri-isterinya di surga." (Silsilah al-Ahadits al-Shahihah li al-Albani, 1281). &lt;br /&gt;Petanyaan: Bila ada yang berkata: "Sesungguhnya tersebut dalam do'a jenazah kita membaca:&lt;br /&gt;"Dan gantikanlah (untuknya) suami yang lebih baik dari suaminya (yang terdahulu)."(Hr. Muslim).&lt;br /&gt;Maka jika ia telah bersuami, bagaimana kita mendo'akan untuknya dengan do'a seperti itu dan kita mengetahui bahwa suami di dunia akan menjadi suami di surga, akan tetapi bila ia belum mempunyai suami dimanakah suaminya ?&lt;br /&gt;Jawaban: Adalah seperti yang disebutkan oleh Syeikh Ibn 'Utsaimin yaitu: "Jika dia belum menikah, maka yang dimaksud adalah suami yang lebih baik dari suami yang ditakdirkan untuknya jika dia tetap hidup. Adapun jiaka dia sudah menikah, maka yang dimaksud dengan suami yang lebih baik adalah yang lebih baik sifat-sifatnya di dunia, karena yang disebut dengan menggantikan adalah bisa dengan menggantikan orangnya seperti bila kita menukar kambing dengan unta, atau bisa dengan mengganti sifat-sifatnya seperti bilamana kita berkata: semoga Allah menggantikan kekufuran orang itu dengan keimanan, atau seperti pada firman Allah SWT:&lt;br /&gt;(Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit,… (QS. Ibrahim:48). Dimana buminya adalah tetap bumi ini akan tetapi diratakan dan langitnya adalah tetap langit ini akan tetapi terbelah." (Al-Bab al-Maftuh, 3/23-24).&lt;br /&gt;(terj. Siti Syahraini)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7691179376729983196-6105321548261775990?l=artikel-yusnita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artikel-yusnita.blogspot.com/feeds/6105321548261775990/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://artikel-yusnita.blogspot.com/2009/01/balasan-surga-bagi-para-wanita.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7691179376729983196/posts/default/6105321548261775990'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7691179376729983196/posts/default/6105321548261775990'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artikel-yusnita.blogspot.com/2009/01/balasan-surga-bagi-para-wanita.html' title='BALASAN SURGA BAGI PARA WANITA'/><author><name>yusnita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16310528700403292730</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7691179376729983196.post-2952613296062427032</id><published>2009-01-29T00:15:00.000-08:00</published><updated>2009-01-29T00:16:26.323-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cermin Hati'/><title type='text'>Ada Apa Dibalik Pernikahan ?</title><content type='html'>Nikah. Untuk satu kata ini, banyak pandangan sekaligus komentar yang berkaitan dengannya. Bahkan sehari-hari pun, sedikit atau banyak, tentu pembicaraan kita akan bersinggungan dengan hal yang satu ini. Tak terlalu banyak beda, apakah di majelisnya para lelaki, pun di majelisnya wanita. Sedikit diantara komentar yang bisa kita dengar dari suara-suara di sekitar, diantaranya ada yang agak sinis, yang lain merasa keberatan, menyepelekan, atau cuek-cuek saja.&lt;br /&gt;Mereka yang menyepelekan nikah, bilang "Apa tidak ada alternatif yang lain selain nikah ?", atau "Apa untungnya nikah?".&lt;br /&gt;Bagi yang merasa berat pun berkomentar "Kalau sudah nikah, kita akan terikat alias tidak bebas", semakna dengan itu "Nikah ! Jelasnya bikin repot, apalagi kalau sudah punya anak".&lt;br /&gt;Yang lumayan banyak 'penggemarnya' adalah yang mengatakan "Saya pingin meniti karier terlebih dahulu, nikah bagi saya itu gampang kok".&lt;br /&gt;Terakhir, para orang tua pun turut memberi nasihat untuk anak-anaknya "Kamu nggak usah buru-buru menikah, cari duit dulu yang banyak".&lt;br /&gt;Ironisnya bersamaan dengan banyak orang yang 'enggan' nikah, ternyata angka perzinaan atau 'kecelakaan" semakin meninggi ! Itu beberapa pandangan orang tentang pernikahan. Tentu saja tidak semua orang berpandangan seperti itu. Sebagai seorang muslim tentu kita akan berupaya menimbang segalanya sesuai dengan kaca mata islam. Apa yang dikatakan baik oleh syariat kita, pastinya baik bagi kita. Sebaliknya, bila islam bilang sesuatu itu jelek pasti jelek bagi kita. Karena pembuat syariat, yaitu Allah adalah yang menciptakan kita, yang tentu saja lebih tahu mana yang baik dan mana yang buruk bagi kita.&lt;br /&gt;Persoalan yang mungkin muncul di tengah masyarakat kita sehingga timbul berbagai komentar seperti di atas, tak lepas dari kesalahpahaman atau ketidaktahuan seseorang tentang tujuan nikah itu sendiri.&lt;br /&gt;Nikah di dalam pandangan islam, memiliki kedudukan yang begitu agung. Ia bahkan merupakan sunnah (ajaran) para nabi dan rasul, seperti firman Allah :&lt;br /&gt;"dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa rasul sebelum kamu dan Kami memberikan kepada mereka isteri-isteri dan keturunan" (QS Ar-ra'd : 38)&lt;br /&gt;Sedikit memberikan gambaran kepada kita, nikah di dalam ajaran islam memiliki beberapa tujuan yang mulia, diantaranya :&lt;br /&gt;• Nikah dimaksudkan untuk menjaga keturunan, mempertahankan kelangsungan generasi manusia. Tak hanya untuk memperbanyak generasi saja, namun tujuan dari adanya kelangsungan generasi tersebut adalah tetap tegaknya generasi yang akan membela syariat Allah, meninggikan dienul islam , memakmurkan alam dan memperbaiki bumi. &lt;br /&gt;• Memelihara kehormatan diri, menghindarkan diri dari hal-hal yang diharamkan, sekaligus menjaga kesucian diri. &lt;br /&gt;• Mewujudkan maksud pernikahan yang lain, seperti menciptakann ketenangan, ketenteraman. Kita bisa menyaksikan begitu harmoninya perpaduan antara kekuatan laki-laki dan kelembutan seorang wanita yang diikat dengan tali pernikahan, sungguh merupakan perpaduan yang begitu sempurna. &lt;br /&gt;Pernikahan pun menjadi sebab kayanya seseorang, dan terangkatnya kemiskinannya. Nikah juga mengangkat wanita dan pria dari cengkeraman fitnah kepada kehidupan yang hakiki dan suci (terjaga). Diperoleh pula kesempurnaan pemenuhan kebutuhan biologis dengan jalan yang disyariatkan oleh Allah. Sebuah pernikahan, mewujudkan kesempurnaan kedua belah pihak dengan kekhususannya. Tumbuh dari sebuah pernikahan adanya sebuah ikatan yang dibangun di atas perasaan cinta dan kasih sayang.&lt;br /&gt;"Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir" (QS Ar Ruum : 21)&lt;br /&gt;Itulah beberapa tujuan mulia yang dikehendaki oleh Islam. Tentu saja tak keluar dari tujuan utama kehidupan yaitu beribadah kepada Allah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7691179376729983196-2952613296062427032?l=artikel-yusnita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artikel-yusnita.blogspot.com/feeds/2952613296062427032/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://artikel-yusnita.blogspot.com/2009/01/ada-apa-dibalik-pernikahan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7691179376729983196/posts/default/2952613296062427032'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7691179376729983196/posts/default/2952613296062427032'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artikel-yusnita.blogspot.com/2009/01/ada-apa-dibalik-pernikahan.html' title='Ada Apa Dibalik Pernikahan ?'/><author><name>yusnita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16310528700403292730</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7691179376729983196.post-6436354469411213818</id><published>2009-01-06T02:20:00.001-08:00</published><updated>2009-01-06T02:22:35.859-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum Islam'/><title type='text'>Hukum Menuduh Berzina</title><content type='html'>Mukaddimah &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kajian kali ini terkait dengan masalah yang di dalam referensi-referensi Fiqih disebut ‘al-Qadzf’. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, ada baiknya kita mengetahui lebih dahulu apa itu ‘Qadzf’? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara bahasa makna kata ‘Qadzf’ adalah ‘ar-Rom-yu bisy-Syay-’i (menuduh sesuatu). &lt;br /&gt;Sedangkan secara istilah adalah menuduh berzina atau melakukan liwath (homoseksual) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Qadzf’ terbagi kepada dua jenis: &lt;br /&gt;Pertama, ‘Qadzf’ yang pelakunya dikenai hukum ‘Hadd’ (hukuman yang telah ditetapkan ukurannya berdasarkan al-Qur’an atau hadits) &lt;br /&gt;Kedua, ‘Qadzf’ yang pelakunya dikenai sanksi ‘Ta’zir’ (hukuman yang dijatuhkan berdasarkan kebijakan penguasa pemerintahan Islam) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk ‘Qadzf’ yang pelakunya (Qadzif) dikenai hukuman ‘Hadd’ adalah menuduh seorang Muhshon (yang sudah menikah) melakukan zina, menafikan nasabnya atau menuduhnya melakukan liwath. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan bentuk ‘Qadzf’ yang pelakunya dikenai sanksi ‘Ta’zir’ adalah menuduh secara tidak terang-terangan terkait dengan hal-hal di atas atau menuduh dengan selain itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hukum ‘Qadzf’ adalah HARAM berdasarkan nash al-Qur’an, hadits dan Ijma’. Allah SWTberfirman, “Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS.an-Nur:4) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam kitab ‘ash-Shahihain’ (Shahih al-Bukhari dan Muslim), dari hadits Abu Hurairah, bahwasanya Nabi SAW bersabda, “Jauhilah tujuh perkara yang mencampakkan…. (salah satunya beliau menyebutkan)… al-Qadzf.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ulama juga telah bersepakat (Ijma’) bahwasanya ‘Qadzf’ tersebut merupakan salah satu dosa besar (Kaba’ir). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibn Rusyd mengatakan, “Para ulama sepakat bahwa disamping diwajibkannya hukum hadd, maka persaksiannya (Qadzif) gugur selama belum bertaubat. Mereka juga bersepakat bahwa taubat tidak dapat membatalkan hukuman ‘hadd.’ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits Pertama &lt;br /&gt;Dari Aisyah RA, dia berkata, “Ketika telah turun ‘udzurku Rasulullah SAW berdiri di atas mimbar lalu menyinggung hal tersebut dan membacakan ayat al-Qur’an. Tatkala turun (dari mimbar), beliau memberintahkan agar didatangkan dua orang laki-laki dan seorang wanita agar dilakukan hukum hadd (terhadap mereka).” (Dikeluarkan oleh Imam Ahmad, Empat Imam hadits lainnya, serta diisyaratkan juga oleh al-Bukhari) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kualitas Hadits &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kualitas hadits di atas adalah Hasan . Hal ini ditegaskan oleh at-Turmudzi yang berkata, “Hasan Gharib, kami tidak mengenalnya selain dari hadits Ibn Ishaq.” Al-Mundziri berkata, “Terkadang Ibn Ishaq menyebutkan sanadnya dan terkadang menyampaikannya secara Irsal (sebagai hadits Mursal).” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kosa Kata Hadits &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksud ungkapan: ‘Udzurku’ adalah tatkala turun perihal ‘keterbebasan’ ash-Shiddiqah (‘Aisyah) dari tuduhan berzina terhadapnya dan divonis ‘bebas dari tuduhan itu’ seperti yang disebutkan dalam surat an-Nur, mulai dari firman-Nya, Innalladziina Jaa’uu bil Ifki…. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksud ungkapan: ‘dua orang laki-laki’ adalah Hassan bin Tsabit al-Anshari dan Misthah bin Utsatsah bin ‘Abbad bin al-Muththalib bin ‘Abdu Manaf bin Qushai, al-Qurasyi al-Muththalibi. Kedua orang ini terlibat dalam penyebaran ‘kabar burung’ mengenai ‘Aisyah RA &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksud ungkapan: ‘Seorang wanita’ adalah Hamnah binti Jahsy bin Ri’ab, dari Bani Asad bin Khuzaimah. Ia adalah saudari kandung dari Zainab binti Jahsy, Ummul Mukminin. Dia adalah isteri Mush’ab bin ‘Umair yang gugur dalam perang Uhud lalu dinikahi oleh Thalhah bin ‘Ubaidullah &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelajaran Hadits &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. ‘Qadzf’ adalah menuduh berzina atau melakukan liwath, dan termasuk salah satu dosa besar (Kaba’ir) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Aisyah RA binti ash-Shiddiq, Abu Bakar menghadapi fitnah keji. Ia dituduh telah berbuat mesum (baca: selingkuh) dengan seorang shahabat, ahli takwa, Shafwan bin al-Mu’aththal. Maka, Allah SWT pun membebaskannya dari tuduhan keji tersebut sehingga menambah kesucian dan kemuliaannya. Betapa tidak, yang membebaskannya tidak lain adalah al-Qur’an sendiri (ayat dari surat an-Nur) yang senatiasa dibaca hingga hari Kiamat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Ketika ayat yang membebaskannya turun, nabi SAW memberitahukan hal itu kepada kaum Muslimin. Beliau membaca ayat al-Qur’an itu di atas mimbar, kemudian turun dari situ lalu minta dihadirkan dua orang laki-laki yang melemparkan tuduhan, yaitu Hassan bin Tsabit dan Misthah bin Utsatsah serta seorang wanita bernama Hamnah binti Jahsy. Beliau SAW mengeksekusi hukuman ‘hadd’ kepada mereka karena telah terbukti dengan sangat meyakinkan kebohongan mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Hadits di atas menunjukkan berlakunya hukum ‘Qadzf’, hadd-nya dan kewajiban menegakkannya terhadap ‘Qadzif’ dan pendusta. Hadd Qadzf itu adalah berupa 80 kali cambuk jika pelakunya (Qadzif) seorang yang merdeka sedangkan bila ia seorang budak, maka separuhnya, yaitu 40 kali cambuk. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Hadd Qadzf gugur bila terdapat salah satu dari empat hal berikut: &lt;br /&gt;Pertama, Pemberian ma’af dari korban tertuduh (Maqdzuf). Qadzif tidak dapat dikenai hadd kecuali melalui permintaan menurut ijma’ ulama. &lt;br /&gt;Kedua, Si korban membenarkan apa yang dituduhkan Qadzif &lt;br /&gt;Ketiga, Menghadirkan bukti atas kebenaran ‘Qadzf’ &lt;br /&gt;Keempat, Bila seorang suami menuduh isterinya lalu ia melakukan ‘mula’anah.’ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Qadzf memiliki beberapa hukum: &lt;br /&gt;1. HARAM: bila berita yang disampaikan bohong &lt;br /&gt;2. WAJIB: atas seorang (suami) yang melihat isterinya berzina, kemudian melahirkan anak yang memperkuat sangkaannya bahwa ia hasil perzinaan dengan teman zinanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. MUBAH: bila seorang (suami) melihat isterinya berzina tetapi tidak melahirkan dari perbuatan itu sehingga mengharuskannya untuk menafikan terjadinya hal itu. Dalam hal ini, ia diberi pilihan antara berpisah dengannya atau menuduhnya. Namun berpisah dengannya adalah lebih utama daripada menuduhnya sebab lebih menutup ‘aib. Di samping, karena konsekuensi dari menuduhnya adalah salah satu dari keduanya harus bersumpah di mana salah satunya lagi pastilah seorang pendusta atau pun ia (isterinya) itu mengakui perbuatan itu sehingga ini membongkar aibnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(SUMBER: Tawdhiih al-Ahkaam Min Buluugh al-Maraam karya Syaikh Abdullah bin Abdurrahman al-Bassam, Jld. V, hal.299-301)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7691179376729983196-6436354469411213818?l=artikel-yusnita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artikel-yusnita.blogspot.com/feeds/6436354469411213818/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://artikel-yusnita.blogspot.com/2009/01/hukum-menuduh-berzina_06.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7691179376729983196/posts/default/6436354469411213818'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7691179376729983196/posts/default/6436354469411213818'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artikel-yusnita.blogspot.com/2009/01/hukum-menuduh-berzina_06.html' title='Hukum Menuduh Berzina'/><author><name>yusnita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16310528700403292730</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7691179376729983196.post-6428190025454028209</id><published>2009-01-06T02:15:00.000-08:00</published><updated>2009-01-06T02:17:15.489-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cermin Hati'/><title type='text'>MENIKAH DENGAN NON MUSLIM</title><content type='html'>Di antara masalah yang membuat miris hati kaum muslimin yang konsisten dengan ajaran Islam, banyaknya orang yang menikah dengan pasangan yang berbeda aqidah tanpa mengindahkan larangan dan aturan agama. Oleh sebab itu, masalah tersebut perlu dibahas dengan merujuk kepada Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala  dan sabda Rasul-Nya Shallallaahu alaihi wa Sallam  dengan penjelasan para ulama.&lt;br /&gt;Muslimah Menikah dengan Laki-Laki Non Muslim.&lt;br /&gt;Tidak ada seorang ulama pun yang membolehkan wanita muslimah menikah dengan laki-laki non muslim, bahkan ijma’ ulama menyatakan haramnya wanita muslimah menikah dengan laki-laki non muslim, baik dari kalangan musyrikin (Budha, Hindu, Majusi, Shinto, Konghucu, Penyembah kuburan dan lain-lain) ataupun dari kalangan orang-orang murtad dan Ahlul Kitab (Yahudi dan Nashrani).1 Hal ini berdasarkan firman Allah&lt;br /&gt;“Hai orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah kepadamu perempuan-perempuan yang beriman, maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka, maka jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman maka janganlah kamu kemba-likan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir, mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka.” (Al Mumtahanah: 10)&lt;br /&gt;Di dalam ayat ini, sangat jelas sekali Allah Subhanahu wa Ta'ala menjelaskan bahwa wanita muslimah itu tidak halal bagi orang kafir. Dan di antara hikmah pengharaman ini adalah bahwa Islam itu tinggi dan tidak ada  yang lebih tinggi darinya.2 Dan sesungguhnya laki-laki itu memilki hak qawamah (pengendalian) atas istrinya dan si istri itu wajib mentaatinya di dalam perintah yang ma’ruf. Hal ini berarti mengandung makna perwalian dan kekuasaan atas wanita, sedangkan Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak menjadikan kekuasaan bagi orang kafir terhadap orang muslim atau muslimah.3 Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,&lt;br /&gt;“Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir atas orang-orang mu’min.” (An Nisaa: 141).&lt;br /&gt;Kemudian suami yang kafir itu tidak mengakui akan agama wanita muslimah, bahkan dia itu mendustakan Kitabnya, mengingkari Rasulnya dan tidak mungkin rumah tangga bisa damai dan kehidupan bisa terus berlangsung bila disertai perbedaan yang sangat mendasar ini.4&lt;br /&gt;Dan di antara dalil yang mengharamkan pernikahan ini adalah firman-Nya Subhanahu wa Ta'ala ,&lt;br /&gt;“Dan jangalah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mu’min) sebelum mereka beriman.” (Al Baqarah: 221).&lt;br /&gt;Di dalam ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta'ala melarang para wali (ayah, kakek, saudara, paman dan orang-orang yang memiliki hak perwalian atas wanita) menikahkan wanita yang menjadi tanggung jawabnya dengan orang musyrik. Yang dimaksud musyrik di sini adalah semua orang yang tidak beragama Islam, mencakup penyembah berhala, Majusi, Yahudi, Nashrani dan orang yang murtad dari Islam.5&lt;br /&gt;Ibnu Katsir Asy Syafi’iy rahimahullah berkata, “Janganlah menikahkan wanita-wanita muslimat dengan orang-orang musyrik.”6&lt;br /&gt;Al Imam Al Qurthubiy rahimahullah berkata, “Janganlah menikahkan wanita muslimah dengan orang musyrik. Dan Umat ini telah berijma’ bahwa laki-laki musyrik itu tidak boleh menggauli wanita mu’minah, bagaimanapun bentuknya, karena perbuatan itu merupakan penghinaan terhadap Islam.”7&lt;br /&gt;Ibnu Abdil Barr rahimahullah berkata, (Ulama ijma’) bahwa muslimah tidak halal menjadi istri orang kafir.8&lt;br /&gt;Syaikh Abu Bakar Al Jaza’iriy hafidhahullah berkata, “Tidak halal bagi muslimah menikah dengan orang kafir secara mutlaq, baik Ahlul Kitab ataupun bukan.”9&lt;br /&gt;Syaikh Shalih Al Fauzan hafidhahullah berkata, “Laki-laki kafir tidak halal menikahi wanita muslimah,10 berdasarkan firman-Nya Subhanahu wa Ta'ala, “Dan jangalah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mu’min) sebelum mereka beriman.” (Al Baqarah: 221).&lt;br /&gt;Jelaslah bahwa pernikahan antara muslimah dengan laki-laki non muslim itu adalah haram, tidak sah dan bathil.&lt;br /&gt;Pernikahan Laki-Laki Muslim dengan Wanita Non Islam.&lt;br /&gt;Sebagaimana wanita muslimah haram dinikahi oleh laki-laki non muslim, begitu juga laki-laki muslim haram menikah dengan wanita non Islam, berdasarkan Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala,&lt;br /&gt;“Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik sebelum mereka beriman.” (Al Baqarah: 221).&lt;br /&gt;Ayat ini secara umum menerangkan keharaman laki-laki muslim menikah dengan wanita musyrik (kafir), meskipun ada ayat yang mengecualikan darinya, yakni untuk wanita ahlu kitab, yang akan kita bahas nanti. Tidak boleh seorang muslim menikahi wanita Budha, Hindu, Konghucu, Shinto, wanita yang murtad dari Islam. Dan jika seorang laki-laki kafir masuk Islam sedangkan istrinya tidak atau bila si istri murtad dari Islam, maka dia harus melepaskannya, berdasar-kan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala&lt;br /&gt;“Dan janganlah kamu tetap berpegang pada tali (perkawinan) dengan wanita-wanita kafir.” (Al Mumtahanah: 10).&lt;br /&gt;Di dalam hal ini, sama saja baik wanita itu murtad masuk agama Ahlul Kitab (Yahudi dan Nashrani) atau agama lainnya atau tidak masuk agama mana-mana atau dia itu tidak shalat, tetap pernikahannya lepas, karena Islam tidak mengakui statusnya saat masuk agama barunya, berbeda kalau memang dia dari awalnya termasuk Ahlul Kitab, maka  hal ini memiliki hukum tersendiri.&lt;br /&gt;Namun dari keharaman menikahi wanita kafir ini dikecualikan terhadap wanita dari kalangan Ahlul Kitab (Yahudi dan Nashrani) yang memang sejak awal dia memeluk agama ini, bukan karena murtad, ini adalah pendapat Jumhur Ulama,11 yang didasarkan pada Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala ,&lt;br /&gt;“Dan (dihalalkan bagi kalian meni-kahi) wanita-wanita yang menjaga kehor-matan di antara orang-orang yang diberi Al Kitab sebelum kalian.” (Al Maidah: 5)&lt;br /&gt;Namun demikian, para ulama meng-anggap makruh12 pernikahan muslim dengan wanita Ahlul Kitab. Umar Ibnu Al Khaththab Radhiallaahu anhu  pernah memerintahkan Hudzaifah agar melepas istrinya yang beragama Yahudi, beliau berkata, “Saya tidak mengklaim itu haram, namun saya khawatir kalian mendapatkan wanita-wanita pezina dari mereka.”1314&lt;br /&gt;Ibnu Umar  Radhiallaahu anhu berpendapat, haram hukumnya menikahi wanita Ahlul Kitab. Beliau berkata saat ditanya tentang laki-laki muslim menikahi wanita Yahudi atau Nashrani, “Allah Subhanahu wa Ta'ala mengharamkan menikahi wanita-wanita musyrik atas kaum muslimin dan saya tidak mengetahui sesuatu dari syirik yang lebih dahsyat dari perkataan wanita, bahwa Tuhannya adalah Isa, atau hamba dari hamba Allah Subhanahu wa Ta'ala.”15&lt;br /&gt;Namun sebenarnya ada perbedaan antara syiriknya orang-orang musyrik dengan syiriknya Ahlul Kitab, yaitu kemusy-rikan di dalam keyakinan orang musyrik adalah asli (pokok) ajaran mereka, sedangkan syirik pada Ahlul Kitab adalah bid’ah di dalam agama mereka, ini sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah t.16&lt;br /&gt;Dan perlu diingat bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala hanya membolehkan menikahi wanita Ahlul Kitab, jika wanita itu wanita yang selalu menjaga kehormatannya, selain mereka, Allah Subhanahu wa Ta'ala mengharamkannya. Selanjutnya kita patut bertanya, “Adakah wanita ahlul kitab yang mampu menjaga kehormatannya?” Realitas menunjuk-kan, wanita-wanita muslim pun banyak yang tak sanggup menjaga kehormatan diri mereka, yang di antaranya disebabkan oleh profokasi wanita ahlul kitab. Yang terpengaruh sudah begitu parah keadaannya, bagaimana lagi yang mempengaruhi (yang merupakan sumber kehinaan diri). Untuk itu, setiap muslim dituntut agar bersikap selektif dan waspada demi menjaga hal-hal yang tidak diinginkan, apalagi dalam hal yang menyangkut keselamatan akidah dan masa depan Islam dan kaum muslimin. Wallahu a’lam. (Abu Sulaiman)&lt;br /&gt;Endnote:&lt;br /&gt;1. Fiqhus Sunnah: 2/181, Rawai’ul Bayan 1/289.&lt;br /&gt;2. Rawai’ul Bayan 1/289.&lt;br /&gt;3. Fiqhus Sunnah: 2/181&lt;br /&gt;4. Fiqhus Sunnah: 2/181&lt;br /&gt;5. Rawai’ul Bayan 1/289.&lt;br /&gt;6. Tafsir Al Quranil Adhim 1/348.&lt;br /&gt;7. Al Jami’ Li Ahkamil Qur’an 3/67, lihat pula Fathul Qadir Karya Asy Syaukani 1/284, Fathul Bayan Fi Maqaslidil Qur’an karya Shiddiq Hasan Khan 1/446.&lt;br /&gt;8. Al Ijma Karya Ibnu Abdil Barr: 250.&lt;br /&gt;9. Minhajul Muslim: 563.&lt;br /&gt;10. Al Mulakhkhash Al Fiqhiy 2/272.&lt;br /&gt;11. Al Mulakhkhash Al Fiqhiy 2/272, Fiqhus Sunnah 2/179, Tafsir Ibni Katsir 1/347, Al Jami Li Ahkamil Qur’an 3/63-65, Asy Syarhul Kabir Karya Ar Rafiiy 8/67-73, Rawai’ul Bayan 1/287.&lt;br /&gt;12. Ini dikarenakan kekhawatiran akan pengaruh isteri terhadap suaminya juga akan anak-anaknya.&lt;br /&gt;13. Isnadnya shahih, lihat Tafsir Ibnu Katsir 1/347.&lt;br /&gt;14. Dan memang untuk zaman sekarang sangat sulit mencari wanita yang mampu menjaga kehormatan dari kalangan Yahudi dan Nashrani.&lt;br /&gt;15. Tafsir Ibnu Katsir ibid, Al Jami Li Ahkamil Qur’an ibid, Rawai’ul Bayan ibid.&lt;br /&gt;16. Al Fatawa Al Kubraa 3/116-117.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7691179376729983196-6428190025454028209?l=artikel-yusnita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artikel-yusnita.blogspot.com/feeds/6428190025454028209/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://artikel-yusnita.blogspot.com/2009/01/menikah-dengan-non-muslim.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7691179376729983196/posts/default/6428190025454028209'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7691179376729983196/posts/default/6428190025454028209'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artikel-yusnita.blogspot.com/2009/01/menikah-dengan-non-muslim.html' title='MENIKAH DENGAN NON MUSLIM'/><author><name>yusnita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16310528700403292730</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7691179376729983196.post-5101080666848143988</id><published>2008-12-27T21:55:00.001-08:00</published><updated>2008-12-27T21:55:50.498-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cermin Hati'/><title type='text'>MEMBERI SALAM</title><content type='html'>Sebagai seorang muslim, sudah seharusnya kita selalu memberi salam satu sama lain. Namun pada zaman sekarang banyak di antara kita yang melalaikan sunnah yang satu ini. Padahal banyak sekali dalil baik dari Al-Qur'an maupun Al-Hadits yang menganjurkan agar kita selalu memberi salam kepada sesama muslim. Firman Allah SWT :&lt;br /&gt;Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya.Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat. (QS. 24:27)&lt;br /&gt;Ibnu Jarir meriwayatkan dengan sanadnya dari "Adi bin Tsamit r.a. ia berkata: Bahwasanya seorang perempuan datang kepada Rasulullah SAW maka ia berkata: Hai Rasulullah, sesungguhnya saya berada dalam rumah dalam keadaan yang saya tidak suka orang lain melihat saya. Dan sesungguhnya seorang laki-laki dari kerabat saya sering masuk ke rumah saya dan saya dalam kedaan sepeti itu, apakah yang mesti saya perbuat? Lalu turunlah ayat ini. Setelah turunnya ayat ini maka tidak dibenarkan seseorang masuk ke rumah orang lain, kecuali setelah minta izin dan memberi salam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa hal yang mesti kita ketahui dalam masalah salam ini yang antara lain adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Anjuran agar kita selalu memberi salam.&lt;br /&gt;" Dari Abi Umarah AlBarra bin "Azib r.a. beliau berkata: Rasulullah SAW memerintahkan kepada kami dengan tujuh perkara ; menjenguk orang sakit, mengikuti jenazah, mendo'akan orang yang bersin, membantu yang lemah, menolong yng didzalimi orang, memberi salam, mengabulkan permintaan seseorang ( yang memohon dengan memakai sumpah). (Muttafaqun 'Alaih )&lt;br /&gt;Kita juga dianjurkan agar selalu memberi salam baik kepada orang yang kita kenal maupun yang tidak kita kenal.&lt;br /&gt;"Dari Abdullah bin "Amar bin "ash r.a. bahwasanya seorang laki laki bertanya kepada Rasulullah SAW, apakah islam yang paling baik? beliau menjawab: Engkau memberi makan dan memberi (mengucapkan ) salam kepada orang yang kamu kenal dan orang yang belum kamu kenal. ( Muttafaqun 'Alaih )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memberi salam adalah salah satu cara untuk memperkuat persaudaraan antara sesama muslim, menambah saling cinta antara sesama orang yang beriman.&lt;br /&gt;"Dari Abu Hurairah r.a. beliau berkata: Rasullah SAW bersabda: Kalian tidak akan masuk sorga sehingga kalian beriman, dan kalian tidak beriman sehingga kalian saling mencintai, maukah kalian aku tunjukkan sesutu yang apabila kalian amalkan akan saling mencintai? Sebarkanlah ( ucapkanlah ) salam di antara kalian." ( HR.Muslim )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memberi salam adalah salah satu ibadah yang dijanjikan masuk sorga bagi siapa saja yang selalu mengamalkannya.&lt;br /&gt;" Dari Abdullah bin Salam r.a. ia berkata : saya mendengar Rasulullah SAW bersabda: Hal menusia sebarkanlah ( ucapkanlah ) salam, berikanlah makanan, hubungkanlah tali kekeluargaan (shilaturrahim ), Shalatlah sedang orang-orang ( lagi lelap ) tertidur, niscaya kamu akan masuk sorga dengan selamat. ( HR.Ahmad, Tirmizi, Ibnu Majah - Shahih )&lt;br /&gt;b. Permulaan disyari'atkan salam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anjuran agar memberi salam sudah ada sejak zaman nabi Adam u&lt;br /&gt;."Dari Abu Hurairah r.a. , dari nabi SAW beliau bersabda: Allah SWT mencipkan Adam u atas rupanya, panjangnya 60 hasta. Maka setelah selesai menciptakannya Allah SWT berfirman: Pergilah dan berilah salam kepada segolongan mereka - segolongan malaikat yang sedang duduk- maka dengarkan apa yang mereka ucapkan sebagai perhormatan kepadamu, maka sesungguhnya apa yang mereka ucapkan adalah perhormatanmu dan perhormatan keturunanmu ( yang beriman ). Maka ia (Adam u ) berkata: assalamu 'alaikum. Mereka menjawab: 'Assalamu'alaikum warahmatullah. Mereka menmbah Warahmatullah, Maka setiap orang yang masuk sorga atas rupa Adam u, maka senantiasa makhluk berkurang setelah itu hingga sekarang. ( HR.Bukhari )&lt;br /&gt;c. Hukum memberi salam dan menjawabnya.&lt;br /&gt;Memberi salam adalah sunat dan menjawabnya adalah wajib. Ibnu Abdil Bar menjelaskan bahwa para ulama sepakat tentang hal ini. Namun Qadhi Iyadh meriwayatkan perkataan dari Qadhi Abdul Wahab bahwa memulai adalah sunat atau fardhu kifayah. Qadhi iyadh menjelaskan bahwa yang dimaksud fardhu kifayah di sini adalah bahwa menegakkan sunnah sunnah rasulullah SAW adalah fardhu kifayah. Wallahu "a'lam.&lt;br /&gt;Dari hadits tentang permulaan salam di atas, para ulama sepakat bahwa menambah kalimat dalam menjawab salam adalah masyru' ( disunatkan ) karena hal itu adalah perhormatan yang lebih baik. Firman Allah SWT :&lt;br /&gt;Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu. (QS. 4:86)&lt;br /&gt;Adapun memberi salam kepada orang kafir hukumnya adalah haram.Rasulullah SAW bersabda :&lt;br /&gt;"Janganlah kamu memulai orang Yahudi dan nasrani dengan salam. Maka apabila kalian bertemu mereka ditengah jalan maka persempitlah jalannya kepada yang lebih sempit. ( HR. Muslim ).&lt;br /&gt;Namun kalau dalam satu majlis berkumpul muslim dan non muslin kita tetap disyari'atkan mengucapkan salam kepada yang muslim.&lt;br /&gt;"Dari Usamah r.a. bahwasanya Rasulullah SAW melewati suatu majlis yang di dalamnya bercampur kaum muslimin dan musyrikin - penyembah berhala dan yahudi - maka nabi memberi salam kepada mereka." ( Muttafaqun 'alaih ).&lt;br /&gt;d. Tatacara memberi salam.&lt;br /&gt;Hendaklah yang berkenderaan lebih dulu memberi salam kepada yang berjalan, yang berjalan memberi salam kepada yang duduk, jama'ah yang sedikit memberi salam kepada yang lebih banyak, yang muda memberi salam kepada yang lebih tua.&lt;br /&gt;"Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: Yang bertunggangan (berkenderaan ) memberi salam kepada yang berjalan. Yang berjalan kepada yng duduk, yang sedikit kepada yang lebih banyak."( Muttafun "alaih ).&lt;br /&gt;Dan pada suatu riwayat Bukhari: dan yang muda kepada yang tua.&lt;br /&gt;Kalau terjadi saling berlawanan, siapakah yang mestinya lebih dulu memberi salam? Seperti satu jama'ah melewati satu jama'ah yang lebih sedikit jumlahnya, atau yang lebih muda melewati yang lebih tua. Al Hafidz Ibnu Hajar mengatakan bahwa ia tidak menemukan dalil tentang hal ini. An-Nawawi memandang dari sudut siapa yang lewat. Maka siapa yang datang maka ialah yang harus lebih dulu memberi salam. Apakah ia lebih tua atau lebih muda, banyak atau sedikit; karena yang sedang lewat itu seperti orang yang mau masuk ke sebuah rumah. Wallahu a'alm.&lt;br /&gt;Rujukan :&lt;br /&gt;1. Fath Al Bari -Al Hafidz Ibnu Hajar Jilid 12 Hal. 262-309&lt;br /&gt;2. Riyadhu Ash-Shalihin- An-Nawawi Hal. 273-279.&lt;br /&gt;Abu Muhammad GZ.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7691179376729983196-5101080666848143988?l=artikel-yusnita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artikel-yusnita.blogspot.com/feeds/5101080666848143988/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://artikel-yusnita.blogspot.com/2008/12/memberi-salam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7691179376729983196/posts/default/5101080666848143988'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7691179376729983196/posts/default/5101080666848143988'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artikel-yusnita.blogspot.com/2008/12/memberi-salam.html' title='MEMBERI SALAM'/><author><name>yusnita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16310528700403292730</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7691179376729983196.post-4964779955690889439</id><published>2008-12-27T21:42:00.000-08:00</published><updated>2008-12-27T21:43:29.898-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum Islam'/><title type='text'>HUKUM  ROKOK</title><content type='html'>Rokok terbukti mengandung berbagai-bagai jenis bahan kimia berbahaya, diantaranya ialah nikotin. Menurut pakar atau ahli kimia, telah jelas dibuktikan bahwa nikotin yang terdapat dalam setiap batang rokok atau pada daun tembakau adalah ternyata sejenis kimia memabukkan yang diistilahkan sebagai candu. &lt;br /&gt;Dalam syara pula, setiap yang memabukkan apabila dimakan, diminum, dihisap atau disuntik pada seseorang maka ia di kategorikan sebagai candu atau dadah kerana pengertian atau istilah candu adalah suatu bahan yang telah dikenal pasti bisa memabukkan atau mengandung elemen yang bisa memabukkan. Dalam mengklasifikasikan hukum candu atau bahan yang memabukkan, jumhur ulama fikah yang berpegang kepada syara (al-Quran dan al- Hadith) sepakat menghukumkan atau memfatwakannya sebagai benda "Haram untuk dimakan atau diminum malah wajib dijauhi atau ditinggalkan". Pengharaman ini adalah jelas dengan berpandukan kepada hujah-hujah atau nas-nas dari syara sebagaimana yang berikut ini: "Setiap yang memabukkan itu adalah haram" H/R Muslim. &lt;br /&gt;Hadith ini dengan jelas menegaskan bahawa setiap apa sahaja yang memabukkan adalah dihukum haram. Kalimah kullu (ßõáøõ)di dalam hadith ini bererti "setiap" yang memberi maksud pada umumnya, semua jenis benda atau apa saja benda yang memabukkan adalah haram hukumnya. Hadith ini dikuatkan lagi dengan hadith di bawah ini: "Setiap sesuatu yang memabukkan maka bahan tersebut itu adalah haram". H/R al-Bukhari, Muslim dan Abu Daud. &lt;br /&gt;Hadith di atas ini pula telah menyatakan dengan cukup terang dan jelas bahwa setiap apa saja yang bisa memabukkan adalah dihukum haram. Pada hadith ini juga Nabi Muhammad s.a.w menggunakan kalimah kullu (ßõáøõ) iaitu "Setiap apa saja", sama ada berbentuk cair, padat, debu (serbuk) atau gas. &lt;br /&gt;Mungkin ada yang menolak kenyataan atau nas di atas ini kerana beralasan atau menyangka bahwa rokok itu hukumnya hanya makruh, bukan haram sebab rokok tidak memabukkan. Mungkin juga mereka menyangka rokok tidak mengandung candu dan kalau adapun kandungan candu dalam rokok hanya sedikit. Begitu juga dengan alasan yang lain, "menghisap sebatang rokok tidak terasa memabukkan langsung". Andaikan, alasan atau sangkaan seperti ini boleh diselesaikan dengan berpandukan kepada hadith di bawah ini: "Apa saja yang pada banyaknya memabukkan, maka pada sedikitnya juga adalah haram". H/R Ahmad, Abu Daud dan Ibn Majah. &lt;br /&gt;Kalaulah meneguk segelas arak hukumnya haram kerana ia benda yang memabukkan, maka walaupun setetes arak juga hukum pengharamannya tetap sama dengan segelas arak. Begitu juga dengan seketul candu atau sebungkus serbuk dadah yang dihukum haram. Secebis candu atau secubit serbuk dadah yang sedikit juga telah disepakati oleh sekalian ulama Islam dengan memutuskan hukumnya sebagai benda yang dihukumkan haram untuk dimakan, diminum, dihisap (disedut) atau disuntik pada tubuh seseorang jika tanpa ada sebab tertentu yang memaksakan atau keperluan yang terdesak seperti darurat kerana rawatan dalam kecemasan. Begitulah hukum candu yang terdapat di dalam sebatang rokok, walaupun sedikit ia tetap haram kerana dihisap tanpa adanya sebab-sebab yang memaksa dan terpaksa. &lt;br /&gt;Di dalam sepotong hadith sahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Nabi Muhammad s.a.w telah mengkategorikan setiap yang memabukkan itu sebagai sama hukumnya dengan hukum arak. Seorang yang benar-benar beriman dengan kerasulan Nabi Muhammad s.a.w tentulah meyakini bahawa tidak seorangpun yang layak untuk menentukan hukum halal atau haramnya sesuatu perkara dan benda kecuali Allah dan RasulNya. Tidak seorangpun berhak atau telah diberi kuasa untuk merubah hukum yang telah ditetapkan oleh Allah melalui Nabi dan RasulNya kerana perbuatan ini ditakuti boleh membawa kepada berlakunya syirik tahrif, syirik ta'til atau syirik tabdil. Hadith yang mengkategorikan setiap yang memabukkan sebagai arak sebagaimana yang di dimaksudkan ialah: "Setiap yang memabukkan itu adalah arak dan setiap (yang dikategorikan) arak itu adalah haram". H/R Muslim. &lt;br /&gt;Dalam perkara ini ada yang berkata bahawa rokok itu tidak sama dengan arak. Mereka beralasan bahawa rokok atau tembakau itu adalah dari jenis lain dan arak itu pula dari jenis lain yang tidak sama atau serupa dengan rokok. Memanglah rokok dan arak tidak sama pada ejaan dan rupanya, tetapi hukum dari kesan bahan yang memabukkan yang terkandung di dalam kedua-dua benda ini (rokok dan arak) tidak berbeza di segi syara kerana kedua benda ini tetap mengandungi bahan yang memabukkan dan memberi kesan yang memabukkan kepada pengguna atau penagihnya. Tidak kira sedikit atau banyaknya kandungan yang terdapat atau yang digunakan, yang menjadi perbincangan hukum ialah bendanya yang boleh memabukkan, sama ada dari jenis cecair, pepejal, serbuk atau gas apabila nyata memabukkan sama ada kuantitinya banyak atau sedikit maka hukumnya tetap sama, iaitu haram sebagaimana keterangan dari hadith sahih di atas. &lt;br /&gt;Di hadith yang lain, Nabi Muhammad s.a.w mengkhabarkan bahawa ada di kalangan umatnya yang akan menyalahgunakan benda-benda yang memabukkan dengan menukar nama dan istilahnya untuk menghalalkan penggunaan benda-benda tersebut: "Pasti akan berlaku di kalangan manusia-manusia dari umatku, meneguk (minum/hisap/sedut/suntik) arak kemudian mereka menamakannya dengan nama yang lain". H/R Ahmad dan Abu Daud. &lt;br /&gt;Seseorang yang benar-benar beriman dan ikhlas dalam beragama, tentunya tanpa banyak persoalan atau alasan akan mentaati semua nas-nas al-Quran dan al-hadith yang nyata dan jelas di atas. Orang-orang yang beriman akan berkata dengan suara hati yang ikhlas, melafazkan ikrar dengan perkataan serta akan sentiasa melaksanakan firman Allah yang terkandung di dalam al-Quran : "Kami akan sentiasa dengar dan akan sentiasa taat". Tidaklah mereka mahu mencontohi sikap dan perbuatan Yahudi yang dilaknat dari dahulu sehinggalah sekarang kerana orang-orang Yahudi itu apabila diajukan ayat-ayat Allah kepada mereka maka mereka akan menentang dan berkata : "Kami sentiasa dengar tetapi kami membantah". &lt;br /&gt;Sebagai contoh iman seorang Muslim yang sejati ialah suatu peristiwa yang mengisahkan seorang sahabat yang terus menuangkan gelas sisa-sisa arak yang ada padanya ke tanah tanpa soal dan bicara sebaik sahaja turunnya perintah pengharaman arak. Hanya iman yang mantap dapat mendorong seseorang mukmin sejati dalam mentaati segala perintah dan larangan Allah yang menjanjikan keselamatannya di dunia dan di akhirat. &lt;br /&gt;Kalaulah Nabi Muhammad s.a.w telah menjelaskan melalui hadith-hadith baginda di atas bahawa setiap yang boleh memabukkan apabila dimakan, diminum atau digunakan (tanpa ada sebab-sebab keperluan atau terpaksa), maka ia dihukum sebagai benda haram dan ia dianggap sejenis dengan arak. Penghisapan dadah nikotin yang terdapat di dalam rokok bukanlah sesuatu yang wajib atau terpaksa dilakukan seumpama desakan dalam penggunaan dadah kerana adanya sebab-sebab tertentu seperti desakan semasa menjalani rawatan atau sebagainya. Sebaliknya, penghisapan rokok dimulakan hanya kerana tabiat ingin suka-suka yang akibatnya menjadi suatu ketagihan yang memaksa si penagih melayani kehendak nafsunya. Dalam pada itu, tanpa kesedaran, ia telah membeli penyakit dan menambah masalah, mengundang kematian dan tidak secara langsung ia telah melakukan kezaliman terhadap diri sendiri di samping mengamalkan pembaziran yang amat ditegah oleh syara (haram). &lt;br /&gt;Dadah (bahan yang memabukkan) telah disamakan hukumnya dengan arak oleh Nabi Muhammad s.a.w disebabkan kedua-dua benda ini boleh memberi kesan mabuk dan ketagihan yang serupa kepada penggunanya (penagih arak dan dadah). Melalui kaedah (cara pengharaman) yang diambil dari hadith Nabi di atas, dapatlah kita kategorikan jenis dadah nikotin yang terdapat di dalam rokok sama hukumnya dengan arak dan semua jenis dadah yang lain. &lt;br /&gt;Kesimpulannya, rokok atau tembakau yang sudah terbukti mengandungi dadah nikotin adalah haram pengambilannya kerana nikotin sudah ternyata adalah sejenis dadah yang boleh membawa kesan mabuk atau memabukkan apabila digunakan oleh manusia. Malah dadah ini akan menjadi lebih buruk lagi setelah mengganggu kesihatan seseorang penggunanya sehingga penderitaan akibat penyakit yang berpunca dari rokok tersebut mengakibatkan kematian. Rokok pastinya menambahkan racun (toksin) yang terkumpul di dalam tubuh badan sehingga menyebabkan sel-sel dalam tubuh seseorang itu mengalami kerosakan, mengganggunya daripada berfungsi dengan baik dan membuka kepada serangan kuman dan barah. &lt;br /&gt;Apabila pengambilan rokok yang mengandungi bahan yang memabukkan dianggap haram kerana nyata ia digolongkan sejenis dengan arak (ÎÜóãúÑñ) oleh Nabi Muhammad s.a.w maka di dalam hadith dan al-Quran pula terdapat amaran keras dari Allah dan RasulNya: &lt;br /&gt;"Dari Abu Musa berkata : Bersabda Rasulullah saw : Tiga orang tidak masuk syurga. Penagih arak, orang yang membenarkan sihir dan pemutus silaturrahmi". H/R Ahmad dan ibn Hibban. &lt;br /&gt;"Mereka bertanya kepada engkau tentang arak dan perjudian, katakanlah bahawa pada keduanya itu dosa yang besar". Al Baqarah:219. &lt;br /&gt;"Hai orang-orang yang beriman, bahawasanya arak , judi, (berkorban untuk) berhala dan bertenung itu adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan, sebab itu hendaklah kamu meninggalkannya semuga kamu beroleh kejayaan". Al Maidah:90. &lt;br /&gt;Hadith di atas Nabi Muhammad s.a.w telah mengkhabarkan bahawa penagih arak tidak masuk dan dalam ayat di atas pula, Allah mengkategorikan arak (khamar) sejajar dengan berhala dan bertenung sebagai perbuatan keji (kotor) yang wajib dijauhi oleh akal yang sihat. Perkataan "rijs" ini tidak digunakan dalam al-Quran kecuali terhadap perkara-perkara yang sememangnya kotor dan jelek. Perbuatan yang buruk, kotor, buruk dan jelek ini tidak lain mesti berasal daripada perbuatan syaitan yang sangat gemar membuat kemungkaran sebagaimana amaran Allah selanjutnya yang menekankan bahwa: "Sesungguhnya syaitan termasuk hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran khamar dan judi itu dan menghalangi kamu dari mengingati Allah dan sembahyang. Apakah kamu tidak mahu berhenti?". Al Maidah:91. &lt;br /&gt;Justeru itu Allah menyeru supaya berhenti daripada perbuatan ini dengan ungkapan yang tajam : "Apakah kamu tidak mahu berhenti?" &lt;br /&gt;Seseorang mukmin yang ikhlas tentunya menyahut seruan ini sebagaimana Umar r.a ketika mendengar ayat tersebut telah berkata: "Kami berhenti, wahai Tuhan kami, Kami berhenti, wahai Tuhan kami". &lt;br /&gt;Utsman bin 'Affan r.a juga telah berwasiat tentang benda-benda yang memabukkan yang telah diistilahkan sebagai khamar (ÎãÑ) "arak". Sebagaimana wasiat beliau: "Jauhkanlah diri kamu dari khamar (benda yang memabukkan), sesungguhnya khamar itu ibu segala kerosakan (kekejian/kejahatan)". Lihat : Tafsir Ibn Kathir Jld.2, M/S. 97. &lt;br /&gt;Ada yang menyangka bahawa rokok walaupun jelas setaraf klasifikasinya dengan arak boleh dijadikan ubat untuk mengurangkan rasa tekanan jiwa, tekanan perasaan, kebosanan dan mengantuk. Sebenarnya rokok tidak pernah dibuktikan sebagai penawar atau dapat dikategorikan sebagi ubat kerana setiap benda haram terutamanya apabila dibuktikan mengandungi bahan memabukkan tidak akan menjadi ubat, tetapi sebaliknya sebagaimana hadith Nabi s.a.w: "Telah berkata Ibn Masoud tentang benda yang memabukkan : Sesungguhnya Allah tidak akan menjadikan ubat bagi kamu pada benda yang Ia telah haramkan kepada kamu". H/R al-Bukhari. &lt;br /&gt;"Telah berkata Waail bin Hujr : Bahawa Tareq bin Suwid pernah bertanya kepada Nabi s.a.w tenang pembuatan arak, maka Nabi menegahnya. Maka baginda bersabda : Penulis membuatnya untuk (tujuan) perubatan. Maka Nabi bersabda : Sesungguhnya arak itu bukan ubat tetapi penyakit". H/R Muslim dan Turmizi. Allohu a’lam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7691179376729983196-4964779955690889439?l=artikel-yusnita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artikel-yusnita.blogspot.com/feeds/4964779955690889439/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://artikel-yusnita.blogspot.com/2008/12/hukum-rokok.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7691179376729983196/posts/default/4964779955690889439'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7691179376729983196/posts/default/4964779955690889439'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artikel-yusnita.blogspot.com/2008/12/hukum-rokok.html' title='HUKUM  ROKOK'/><author><name>yusnita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16310528700403292730</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7691179376729983196.post-3398904993769682376</id><published>2008-12-26T00:34:00.000-08:00</published><updated>2008-12-26T00:38:13.838-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keutamaan bulan² Islam'/><title type='text'>Keutamaan Bulan Muharram dan Hari Asyura</title><content type='html'>Muharram adalah bulan di mana umat Islam mengawali tahun kalender Hijriah berdasarkan peredaran bulan. Muharram menjadi salah satu dari empat bulan suci yang tersebut dalam Al-Quran. "Jumlah bulan menurut Allah adalah dua belas bulan, tersebut dalam Kitab Allah pada hari Dia menciptakan langit dan bumi. Di antara kedua belas bulan itu ada empat bulan yang disucikan."&lt;br /&gt;Keempat bulan itu adalah, Zulqaidah, Zulhijjah, Muharram dan Rajab. Semua ahli tafsir Al-Quran sepakat dengan hal ini karena Rasululullah Saw dalam haji kesempatan haji terakhirnya mendeklarasikan, "Satu tahun terdiri dari dua belas bulan, empat di antaranya adalah bulan suci. Tiga di antaranya berurutan yaitu Zulqaidah, Zulhijjah, Muharram dan ke empat adalah bulan Rajab."&lt;br /&gt;Selain keempat bulan khusus itu, bukan berarti bulan-bulan lainnya tidak memiliki keutamaan, karena masih ada bulan Ramadhan yang diakui sebagai bulan paling suci dalam satu satu tahun. Keempat bulan tersebut secara khusus disebut bulan-bulan yang disucikan karena ada alasan-alasan khusus pula, bahkan para penganut paganisme di Makkah mengakui keempat bulan tersebut disucikan.&lt;br /&gt;Pada dasarnya setiap bulan adalah sama satu dengan yang lainnya dan tidak ada perbedaan dalam kesuciannya dibandingkan dengan bulan-bulan lain. Ketika Allah Swt memilih bulan khusus untuk menurunkan rahmatnya, maka Allah Swt lah yang memiliki kebesaran itu atas kehendakNya.&lt;br /&gt;Keutamaan Bulan Muharram&lt;br /&gt;Nabi Muhammad Saw bersabda, "Ibadah puasa yang paling baik setelah puasa Ramadan adalah berpuasa di bulan Muharram."&lt;br /&gt;Meski puasa di bulan Muharram bukan puasa wajib, tapi mereka yang berpuasa pada bulan Muharram akan mendapatkan pahala yang besar dari Allah Swt. Khususnya pada tanggal 10 Muharram yang dikenal dengan hari 'Asyura.&lt;br /&gt;Ibnu Abbas mengatakan, ketika Nabi Muhammad Saw hijrah dari Makkah ke Madinah, beliau menjumpai orang-orang Yahudi di Madinah biasa berpuasa pada tanggal 10 Muharram. Menurut orang-orang Yahudi itu, tanggal 10 Muharram bertepatan dengan hari ketika Nabi Musa dan pengikutnya diselamatkan dari kejaran bala tentara Firaun dengan melewati Laut Merah, sementara Firaun dan tentaranya tewas tenggelam.&lt;br /&gt;Mendengar hal ini, Nabi Muhammad Saw mengatakan, "Kami lebih dekat hubungannya dengan Musa daripada kalian" dan langsung menyarankan agar umat Islam berpuasa pada hari 'Asyura. Bahkan dalam sejumlah tradisi umat Islam, pada awalnya berpuasa pada hari 'Asyura diwajibkan. Kemudian, puasa bulan Ramadhan-lah yang diwajibkan sementara puasa pada hari 'Asyura disunahkan.&lt;br /&gt;Dikisahkan bahwa Aisyah mengatakan, "Ketika Rasullullah tiba di Madinah, ia berpuasa pada hari 'Asyura dan memerintahkan umatnya untuk berpuasa. Tapi ketika puasa bulan Ramadhan menjadi puasa wajib, kewajiban berpuasa itu dibatasi pada bulan Ramadhan saja dan kewajiban puasa pada hari 'Asyura dihilangkan. Umat Islam boleh berpuasa pada hari itu jika dia mau atau boleh juga tidak berpuasa, jika ia mau." Namun, Rasulullah Saw biasa berpuasa pada hari 'Asyura bahkan setelah melaksanakan puasa wajib di bulan Ramadhan.&lt;br /&gt;Abdullah Ibn Mas'ud mengatakan, "Nabi Muhammad lebih memilih berpuasa pada hari 'Asyura dibandingkan hari lainnya dan lebih memilih berpuasa Ramadhan dibandingkan puasa 'Asyura." (HR Bukhari dan Muslim). Pendek kata, disebutkan dalam sejumlah hadist bahwa puasa di hari 'Asyura hukumnya sunnah. Beberapa hadits menyarankan agar puasa hari 'Asyura diikuti oleh puasa satu hari sebelum atau sesudah puasa hari 'Asyura. Alasannya, seperti diungkapkan oleh Nabi Muhammad Saw, orang Yahudi hanya berpuasa pada hari 'Asyura saja dan Rasulullah ingin membedakan puasa umat Islam dengan puasa orang Yahudi. Oleh sebab itu ia menyarankan umat Islam berpuasa pada hari 'Asyura ditambah puasa satu hari sebelumnya atau satu hari sesudahnya (tanggal 9 dan 10 Muharram atau tanggal 10 dan 11 Muharram).&lt;br /&gt;Selain berpuasa, umat Islam disarankan untuk banyak bersedekah dan menyediakan lebih banyak makanan untuk keluarganya pada 10 Muharram. Tradisi ini memang tidak disebutkan dalam hadist, namun ulama seperti Baihaqi dan Ibnu Hibban menyatakan bahwa hal itu boleh dilakukan.&lt;br /&gt;Legenda dan Mitos Hari 'Asyura&lt;br /&gt;Meski demikian banyak legenda dari salah pengertian yang terjadi di kalangan umat Islam menyangkut hari 'Asyura, meskipun tidak ada sumber otentiknya dalam Islam. Beberapa hal yang masih menjadi keyakinan di kalangan umat Islam adalah legenda bahwa pada hari 'Asyura Nabi Adam diciptakan, pada hari 'Asyura Nabi Ibrahim dilahirkan, pada hari 'Asyura Allah Swt menerima tobat Nabi Ibrahim, pada hari 'Asyura Kiamat akan terjadi dan siapa yang mandi pada hari 'Asyura diyakini tidak akan mudah terkena penyakit. Semua legenda itu sama sekali tidak ada dasarnya dalam Islam. Begitu juga dengan keyakinan bahwa disunnahkan bagi mereka untuk menyiapkan makanan khusus untuk hari 'Asyura.&lt;br /&gt;Sejumlah umat Islam mengaitkan kesucian hari 'Asyura dengan kematian cucu Nabi Muhmmad Saw, Husain saat berperang melawan tentara Suriah. Kematian Husain memang salah satu peristiwa tragis dalam sejarah Islam. Namun kesucian hari 'Asyura tidak bisa dikaitkan dengan peristiwa ini dengan alasan yang sederhana bahwa kesucian hari 'Asyura sudah ditegakkan sejak zaman Nabi Muhammad Saw jauh sebelum kelahiran Sayidina Husain. Sebaliknya, adalah kemuliaan bagi Husain yang kematiannya dalam pertempuran itu bersamaan dengan hari 'Asyura.&lt;br /&gt;Anggapan-anggapan yang salah lainnya tentang bulan Muharram adalah kepercayaan bahwa bulan Muharram adalah bulan yang tidak membawa keberuntungan, karena Husain terbunuh pada bulan itu. Akibat adanya anggapan yang salah ini, banyak umat Islam yang tidak melaksanakan pernikahan pada bulan Muharram dan melakukan upacara khusus sebagai tanda ikut berduka atas tewasnya Husain dalam peperangan di Karbala, apalagi disertai dengan ritual merobek-robek baju atau memukuli dada sendiri.&lt;br /&gt;Nabi Muhammad sangat melarang umatnya melakukan upacara duka karena meninggalnya seseorang dengan cara seperti itu, karena tindakan itu adalah warisan orang-orang pada zaman jahiliyah.&lt;br /&gt;Rasulullah bersabda, "Bukanlah termasuk umatku yang memukuli dadanya, merobek bajunya dan menangis seperti orang-orang pada zaman jahiliyah."&lt;br /&gt;Bulan Pengampunan Dosa&lt;br /&gt;Bulan Muharram adalah bulan pertama dalam sistem kalender Islam. Kata Muharram artinya 'dilarang'. Sebelum datangnya ajaran Islam, bulan Muharram sudah dikenal sebagai bulan suci dan pada bulan ini dilarang untuk melakukan hal-hal seperti peperangan dan pertumpahan darah.&lt;br /&gt;Seperti sudah disinggung di atas, bahwa bulan Muharram banyak memiliki keistimewaan. Khususnya pada tanggal 10 Muharram. Beberapa kemuliaan tanggal 10 Muharram antara lain Allah Swt akan mengampuni dosa-dosa setahun sebelumnya dan setahun ke depan. (Tarmizi) (ln/Islamicity)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7691179376729983196-3398904993769682376?l=artikel-yusnita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artikel-yusnita.blogspot.com/feeds/3398904993769682376/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://artikel-yusnita.blogspot.com/2008/12/keutamaan-bulan-muharram-dan-hari.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7691179376729983196/posts/default/3398904993769682376'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7691179376729983196/posts/default/3398904993769682376'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artikel-yusnita.blogspot.com/2008/12/keutamaan-bulan-muharram-dan-hari.html' title='Keutamaan Bulan Muharram dan Hari Asyura'/><author><name>yusnita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16310528700403292730</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7691179376729983196.post-4748738640005978705</id><published>2008-12-25T01:01:00.000-08:00</published><updated>2008-12-25T01:07:12.544-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cermin Hati'/><title type='text'>Dosa Pengundang Laknat</title><content type='html'>Kelelawar adalah makhluk yang memiliki kebiasaan aneh. Hewan bersayap ini memiliki kebiasaan tidur di waktu siang, dan mengais rezqi di malam hari. Jadi, aksinya mencari mangsa di malam hari. Hal ini mengingatkan kita dengan sekelompok orang-orang yang dilaknat oleh Allah dari kalangan waria-waria (wanita-pria), dan selain mereka (laki maupun wanita) yang senang melakukan aksi haram dan terlaknat, yaitu adat buruk kaum Sodom, biasa kita kenal dengan istilah "homoseksual" atau Sodomi (senang kepada yang sesama jenis kelamin). &lt;br /&gt;Gemerlapnya lampu di sepanjang jalan menerangi hampir di setiap penjuru kota Makassar. Pedagang kaki lima dan penjual-penjual asongan lainnya ramai menjajakan dagangannya ditambah lagi dengan suara deruman kendaraan-kendaraan bermotor yang lalu lalang di sepanjang jalan tersebut turut membahana meramaikan gemerlapnya kehidupan kota Makassar khususnya di Karebosi. Lambat laun suara bising dan keramaian sekitar Karebosi perlahan-lahan mulai sirna seiring dengan bertambahnya usia malam. Suasana pun mulai berubah menjadi suatu pemandangan yang memalukan dan menjijikkan serta membuat bulu roma berdiri, tatkala waria-waria mulai bermunculan satu persatu di balik gelapnya malam. Mereka bagaikan "kelelawar malam" yang hendak mengais rezki dan kepuasan yang diharamkan dan diancam dengan laknat dan adzab oleh Allah seperti yang pernah ditimpakan untuk kaum Sodom di jaman Nabi Luth &lt;br /&gt;Kisah Kaum Luth dalam Kitabullah &lt;br /&gt;Allah -Ta’ala- mengabarkan dalam Al-Qur’an bahwa Dia mengutus beberapa malaikat untuk membinasakan kaum Luth yang memiliki akhlak dan kebiasaan yang buruk. Oleh Karena itu, Nabi Luth -Alaihis salam- merasa pusing bagaimana menjaga tamunya dari orang-orang yang senang melakukan homoseksual. Allah -Ta’ala- berfirman, &lt;br /&gt;ولما جاءت رسلنا لوطا سيء بهم وضاق بهم ذرعا وقال هذا يوم عصيب # وجاءه قومه يهرعون إليه ومن قبل كانوا يعملون السيئات قال يا قوم هؤلاء بناتي هن أطهر لكم فاتقوا الله ولا تخزون في ضيفي أليس منكم رجل رشيد # قالوا لقد علمت ما لنا في بناتك من حق وإنك لتعلم ما نريد قال لو أن لي بكم قوة أو آوي إلى ركن شديد # قالوا يا لوط إنا رسل ربك لن يصلوا إليك فأسر بأهلك بقطع من الليل ولا يلتفت منكم أحد إلا امرأتك إنه مصيبها ما أصابهم إن موعدهم الصبح أليس الصبح بقريب # فلما جاء أمرنا جعلنا عاليها سافلها وأمطرنا عليها حجارة من سجيل منضود # مسومة عند ربك وما هي من الظالمين ببعيد #&lt;br /&gt;"Dan tatkala utusan-utusan Kami (para malaikat) datang kepada Luth, maka ia merasa susah, dan ,merasa sempit dadanya karena kedatangan mereka, dan dia berkata, "Ini adalah hari yang amat sulit". Dan datanglah kepadanya kaumnya dengan bergegas-gegas. Dan sejak dahulu mereka melakukan perbuatan-perbuatan yang keji (homoseksual). Luth berkata, "Hai kaumku inilah putri-putriku, mereka lebih suci bagimu, maka bertaqwalah kepada Allah, dan kalian jangan mencemarkan (nama)ku terhadap tamuku. Tidakkah ada diantara kalian orang yang berakal?" Mereka (kaumnya) menjawab, "Sesungguhnya kamu telah tahu bahwa kami tidak mempunyai keinginan terhadap putri-putrimu; dan sesungguhnya kamu mengetahui apa yang sebenarnya kami kehendaki". Luth berkata, "Seandainya aku mempunyai kekuatan (untuk menolakmu) atau kalau aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat (maka aku akan lakukan)". Para utusan (malaikat) itu berkata,"Hai Luth, sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Tuhanmu, sekali-kali mereka tak akan mengganggumu, sebab itu pergilah dengan membawa keluargamu, dan pengikut-pengikutmu di akhir malam, dan janganlah ada seorangpun diantara kalian yang tertinggal, kecuali istrimu. Sesungguhnya dia akan ditimpa adzab yang menimpa mereka karena sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah di waktu subuh; bukankah subuh itu sudah dekat?" maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi, yang diberi tanda oleh Tuhanmu. Dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zholim ". (QS. Huud:77-82 ) &lt;br /&gt;Bahaya dan Ancaman Keras bagi Kaum Sodomi &lt;br /&gt;Banyak sekali dalil-dalil dan bukti yang menunjukkan betapa kejinya, dan haramnya perbuatan liwath sebagaimana anda akan baca dalam poin-poin berikut ini: &lt;br /&gt;• Kiriman Batu bagi Pelaku Liwath &lt;br /&gt;Saking besarnya dosa liwath (homoseksual), sampai Allah -Ta’ala- menghukumi kaum Sodom yang senang praktek seperti itu dengan sambaran petir, membalik tanah tempat tinggal mereka, dan diakhiri lemparan batu yang membumihanguskan mereka, sehingga kota mereka hanyalah kenangan yang membawa ibrah bagi yang mau berpikir. Allah -Ta’ala- berfirman, &lt;br /&gt;فَجَعَلْنَا عَالِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهِمْ حِجَارَةً مِنْ سِجِّيلٍ &lt;br /&gt;"Maka kami jadikan bagian atas kota itu terbalik ke bawah dan kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras". (QS. Al-Hijr:74 )&lt;br /&gt;• Dosa yang Paling Mengkhawatirkan &lt;br /&gt;Hukuman keras yang Allah berikan kepada mereka membuat bulu kuduk merinding jangan sampai juga menimpa kita, karena ada sebagian manusia yang dekat dengan kita, satu kota dengan kita !! Tak heran jika Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- pernah bersabda menggambarkan kekhawatiran beliau, &lt;br /&gt;إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِيْ عَمَلُ قَوْمِ لُوْطٍ&lt;br /&gt;"Sesungguhnya sesuatu yang paling aku takutkan atas umatku adalah perbuatan kaum Luth" [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (3/382), At-Timidzy dalam Sunan-nya (1957), dan Ibnu Majah dalam Sunan-nya (2563). Hadits ini di-hasan-kan oleh Syaikh Al- Albany dalam Takhrij Al-Misykah (3577)]. &lt;br /&gt;Penyakit liwath (homoseksual) ini beliau khawatirkan tersebar di kalangan ummatnya, karena hukumannya berat di dunia, dan akhirat.Penyakit seperti ini mudah sekali tersebar di kalangan manusia, apalagi di zaman kita ini, karena banyaknya fasilitas, sebab, dan momen yang membantu mereka terjerumus dalam dosa besar seperti itu. Karenanya, empat belas abad yang lampau, Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- telah mengingatkannya agar kita terhindar darinya. &lt;br /&gt;• Laknat atas Pelaku Homoseks &lt;br /&gt;Diamtara perkara yang menunjukkan besarnya dosa liwath, Allah -Ta’ala- melaknat pelakunya melalui lisan Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam-. Allah tidaklah melaknat sesuatu, kecuali karena kejelekannya. Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda, &lt;br /&gt;لَعَنَ اللهُ مَنْ عَمِلَ عَمَلَ قَوْمِ لُوْطٍ ثَلَاثَ مَرَّاتٍِ &lt;br /&gt;"Allah melaknat orang yang berbuat seperti yang diperbuat kaum Luth, Allah melaknat orang yang berbuat seperti yang diperbuat kaum Luth, Allah melaknat orang yang berbuat seperti yang diperbuat kaum Luth, sebanyak tiga kali, Allah melaknat orang yang menyembelih hewan untuk selain Allah dan Allah melaknat orang yang menyetubuhi binatang". [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (2915), Abu Ya’laa dalam Al-Musnad (2539), Al-Baihaqiy dalam Al-Kubro (16794), dan Syu’ab Al-Iman (5373), Abd bin Humaid Al-Muntakhob (589). Hadits ini di-hasan-kan oleh Al-Arna’uth dalam Takhrij Al-Musnad (1/317)]. &lt;br /&gt;Alangkah benarnya Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- !! Bagaimana tidak, sebab para waria dan selainnya dari kalangan pelaku homoseks, kebanyakan diantara mereka jauh dari agamanya; jauh dari majelis ilmu; hanya sibuk dengan kehidupan dunia yang glamour, dan melalaikan . Ini tanda terlaknatnya mereka. &lt;br /&gt;Muhammad bin Abi Bakr Ar-Roziy berkata dalam Mukhtar Ash-Shihhah (hal.612), "Laknat adalah pengusiran, dan dijauhkannya (seseorang) dari kebaikan". &lt;br /&gt;• Hukuman Bunuh bagi Kaum Sodomi &lt;br /&gt;Kaum sodomi dalam pandangan syari’at adalah kaum yang membawa petaka dan laknat sehingga Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- memerintahkan kita (tapi ini tugas penguasa) untuk membasmi kaum ini, karena akan menyebabkan meratanya siksa Allah jika turun kepada mereka. Khawatir kita yang tak melakukan aksi homoseksual juga pada akhirnya kena. Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda, &lt;br /&gt;مَنْ وَجَدْتُمُوْهُ يَعْمَلُ عَمَلَ قَوْمِ لُوْطِ فَاقْتُلُوْا الْفَاعِلَ وَالْمَفْعُوْلَ بِهِ&lt;br /&gt;"Barang siapa yang kalian dapati melakukan perbuatan kaum Luth (homoseks) maka bunuhlah pelakunya dan parnernya" [HR. At-Tirmidzy dalam As-sunan (1956), dan Abu Dawud dalam As-sunan (14462), Ibnu Majah dalam As-sunan (2561) dan selainnya. Hadits ini di-shahih-kan oleh Syaikh Al-Albany dalam Al-Irwa’ (2350)] &lt;br /&gt;Jadi, hukumannya adalah harusnya dibunuh antara pelaku homoseks, dan parnernya, karena sama-sama berserikat dalam mendatangkan laknat dan petaka yang mengerikan dan menakutkan akan menimpa manusia. &lt;br /&gt;• Allah tak Akan Melihat Mereka &lt;br /&gt;Di hari kiamat ketika berjumpa dengan Allah di padang Mahsyar, setiap manusia akan menunggu dan mengharap keputusan yang baik dari Allah Yang Maha Perkasa; mereka menunggu rahmat (kasih sayang) Allah -Ta’ala- . Di kala itulah sebagian manusia yang celaka malah mendapatkan murka dari Allah, tidak dipandangi oleh Allah dengan pandangan rahmat, tapi pandangan murka !! Diantara mereka adalah para pelaku liwath, dan suami yang menggauli istirnya dari arah duburnya. Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda, &lt;br /&gt;لَا يَنْظُرُ اللهُ إِلَى رَجُلٍ أَتَى رَجُلًا أَوْ امْرَأَةً فِيْ الدُّبُرِ&lt;br /&gt;"Allah tidak akan melihat kepada seorang laki-laki yang menyetubuhi seorang laki-laki (homoseks) atau menyetubuhi istrinya pada duburnya" [HR. At-Tirmidzy dalam As-Sunan (1165). Di-hasan-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Takhrij Al-Misykah (3195)] &lt;br /&gt;• Hukuman Syar’iy di Dunia bagi Dosa Homoseks &lt;br /&gt;Para ulama’ telah menjelaskan tentang hukuman bagi para kaum Sodomi, yaitu mereka harus dirajam dengan batu, bahkan dibuang tempat ketinggian sebagaimana yang terdapat dalam atsar dari Ibnu Abbas -radhiyallahu ‘anhu-. &lt;br /&gt;Ibnu Abbas pernah ditanya, apakah seorang jejaka dihukum atas perbuatan homoseksnya? Beliau menjawab, "Dia harus dirajam". [HR.Abu Dawud dalam As-Sunan (4463). Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Shohih Sunan Abi Dawud (3/73), cet. Maktabah Al-Ma’arif 1421 H] &lt;br /&gt;Ini menunjukkan bahwa dosa homoseksual sama derajatnya dengan zina, bahkan lebih besar, dan keji. Oleh karena itu, Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda memerintahkan agar pelaku homoseksual dan parnernya dirajam, &lt;br /&gt;اُرْجُمُوْا الْأَعْلَى وَالْأَسْفَلَ اُرْجُمُوْهُمَا جَمِيْعًا &lt;br /&gt;"Rajamlah orang yang di atas dan yang di bawah; rajamlah semuanya". [HR. Ibnu Majah dalam As-Sunan (2610), dan di-hasan-kan oleh Al-Albaniy dalam Shohih Sunan Ibni Majah (3/18), cet. Maktabah Al-Ma’arif, dengan tahqiq Ali bin Hasan Al-Halabiy] &lt;br /&gt;Ibnu Abbas -radhiyallahu ‘anhu- . berkata, "Dilihat rumah manakah yang paling tinggi di suatu negeri, kemudian orang itu (pelaku homoseks) dibuang dari atasnya, seraya diikuti dengan lemparan batu".[HR. Ad-Duriy dalam Dzamm Al-Liwath (48), dan Al-Ajurriy dalam Tahrim Al-Liwath (29). Di-shohih-kan oleh Az-Zuhairiy dalam Tahqiq Al-Kaba’ir (hal.41)] &lt;br /&gt;Homoseks merupakan perbuatan yang keji, dan jahat; menunjukkan kebobrokan, dan ketidakberakalan para pelaku hal tersebut. Fitrahnya telah dibalik untuk menyenangi lawan jenis. Padahal itu adalah dosa besar di sisi Allah. Oleh karena itu, mereka memang layak diberi hukuman yang setimpal. &lt;br /&gt;Imam As-Syafi’iy-rahimahullah- berkata, "Hukuman homoseks sama dengan hukuman zina. Umat telah bersepakat bahwa barang siapa yang melakukan itu bersama budaknya, maka ia adalah sodomi yang jahat". [Lihat Al-Kaba’ir (hal.41) karya Adz-Dzahabiy, dengan tahqiq Syaikh Samir bin Amin Az-Zuhairiy] &lt;br /&gt;Al-Imam Abu Abdillah Adz-Dzahabiy-rahimahullah- berkata dalam Al-Kaba’ir (hal.40), "Sungguh Allah telah menyebutkan kepada kita kisah kaum Luth dalam beberapa tempat dalam Al-Qur’an Al-Aziz, Allah telah membinasakan mereka akibat perbuatan keji mereka. Kaum muslimin dan selain mereka dari kalangan pemeluk agama yang ada, bersepakat bahwa homoseks termasuk dosa besar".&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7691179376729983196-4748738640005978705?l=artikel-yusnita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artikel-yusnita.blogspot.com/feeds/4748738640005978705/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://artikel-yusnita.blogspot.com/2008/12/dosa-pengundang-laknat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7691179376729983196/posts/default/4748738640005978705'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7691179376729983196/posts/default/4748738640005978705'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artikel-yusnita.blogspot.com/2008/12/dosa-pengundang-laknat.html' title='Dosa Pengundang Laknat'/><author><name>yusnita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16310528700403292730</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7691179376729983196.post-7683459705295867868</id><published>2008-12-23T20:13:00.000-08:00</published><updated>2008-12-23T20:17:39.792-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cermin Hati'/><title type='text'>Jilbab Syar'i dan Jilbab Funky</title><content type='html'>Sesungguhnya agama Islam memerintahkan setiap orang muslim agar mencintai saudaranya bagaikan mencintai dirinya sendiri, kemudian menghindari mereka dari keburukan sebagaimana ia menghindarkan diri daripadanya, nasehat menasehati demi men ta’ati kebenaran yang telah didatangkan dari Allah dan Rasul-Nya, baik itu berupa perintah maupun larangan, dengan hati rela mematuhinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di saat agama Islam tiba dan kaum Jahiliyah membenci bayi perempuan, bahkan tega buah hati sendiri dikubur hidup-hidup, tidak memberikan harta warisan kepada wanita, terkadang mem pusakai wanita bagaikan harta yang lain dengan jalan paksa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka Allah serta Rasul-Nya melarang perbuatan keji ter- sebut, menjaga dan mengangkat derajat wanita bagaikan mutiara berharga, dengan memberikan hak-haknya sebagaimana agama menghormati dan memberikan hak-haknya kepada seorang lelaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demi kesucian masyarakat serta demi keutuhan dan kehor matan seorang muslimah dari kemaksiatan dan dari kecerobohan orang jahil, maka Islam menganjurkan perkawinan dan mengharam kan perbuatan zina. Maka demi kesucian dan keutuhan, Allah Maha Penyayang memerintahkan para muslimah agar mengenakan hijab (jilbab), supaya berada di sisi Allah, dan ditempat sejauh mungkin dari perbuatan keji yang dapat menimpa pada diri kaum muslimah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simak baik-baik ayat Al Qur’an ini : “Katakanlah kepada wanita yang beriman, ‘hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan pehiasaannya kecuali yang biasa nampak dari pandangan. Dan hen daklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan jangan- lah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau keapda ayah mereka, atau putra-putra mereka, atau saudara- saudara mereka, atau putra-putra suami mereka, atau wanita- wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan- pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap kaum wanita), atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat kaum wanita. dan janganlah mereka memukul kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung”. (Qs An Nur : 31)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana jilbab yang dimaksud dalam ayat diatas, setidaknya harus memenuhi syarat-syarat hijab atau jilbab sebagai berikut dan inilah jilbab yang syar’i dan benar :&lt;br /&gt;Menutupi seluruh tubuh, sebagaimana yang difirmankan Allah, "Hendaklah mereka itu mengeluarkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". (Qs Al Ahzab : 59) .&lt;br /&gt;Maksud daripada berhijab adalah untuk menutup tubuh wanita dari pandangan laki-laki. Jadi, bukan yang tipis, yang pendek, yang ketat, tau berkelir serupa dengan kulit, mau- pun yang bercorak dan yang bersifat mengundang penglihat- an laki-laki.&lt;br /&gt;Harus yang longgar, sehingga tidak menampakkan tempat- tempat yang menarik pada anggota tubuh.&lt;br /&gt;Tidak diberi wangi-wangian, hal ini telah diperingatkan oleh Rasulullah saw : "Sesungguhnya seorang wanita yang memakai wangi- wangian kemudian melewati kaum (laki-laki) bermak- sud agar mereka mencium aromanya, maka ia telah melakuk- an perbuatan zina". (HR Tirmidzi) Pakaian wanita tidak boleh menyerupai laki-laki, "Nabi saw melaknat laki-laki yang mengenakan pakaian wanita, dan seorang wanita yang mengenakan pakaian laki-laki". (HR Abu Dawud dan An Nasai). Tidak menyerupai pakaian orang kafir, "Siapa yang meniru suatu kaum, maka ia berarti dari golongan mereka". (HR Ahmad) Berpakaian tanpa bermaksud supaya dikenal, baik itu dengan mengenakan pakaian yang berharga mahal maupun yang mu- rah, jika niatnya untuk dibanggakan karena harganya atau- pun yang kumal jika bermaksud agar dikenal sebagai orang yang ta'at (riya'). "Siapa yang mengenakan pakaian tersohor (bermaksud supaya dikenal) di dunia, maka Allah akan mem- berinya pakaian hina di hari Kiamat, lalu dinyalakan apa pada pakaian tersebut." (HR Abu Dawud)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh fenomena jilbab pada saat sekarang, membuat kita di satu sisi patut bersyukur, wanita sudah tidak malu lagi untuk berjilbab di manapun tempatnya sehingga jilbab benar-benar telah membudaya di masyarakat dan dianggap sesuatu yang lumrah.Namun di sisi lain jilbab yang sesungguhnya harus memenuhi prasyarat jilbab syar’i sebagaiman tersebut di atas seakan telah berubah fungsi dan ajaran, banyak sekali dan telah bertebaran dimana-mana jilbab yang bukan lagi syar’i tapi lebih terkesan trendy dan mode atau lebih dikenal dengan jilbab funky yang kebanyakan dari semua itu adalah menyimpang dari syarat-syarat syara’ jilbab yang sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara penyimpangan-penyimpangannya yang ada, antara lain :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ditutupnya seluruh bagian tubuh. Seperti yang biasa dan di anggap sepele yaitu terbukanya bagian kaki bawah, atau bagian dada karena jilbab diikatkan ke leher, atau yang lagi trendy, remaja putri memakai jilbab tapi lengan pakaiannya digulung atau dibuka hingga ke siku mereka.&lt;br /&gt;Sering ditemui adanya perempuan yang berjilbab dengan pakaian ketat, pakaian yang berkaos, ataupun menggunakan pakaian yang tipis, sehingga walaupun perempuan tersebut telah menggunakan jilbab, tapi lekuk-lekuk tubuh mereka dapat diamati dengan jelas. Didapati perempuan yang berjilbab dengan menggunakan celana panjang bahkan terkadang memakai celana jeans. Yang perlu ditekankan dan telah diketahui dengan jelas bahwa celana jeans bukanlah pakaian syar'i untuk kaum muslimin, apalagi wanita. Banyak wanita muslimah di sekitar kita yang memakai jilbab bersifat temporer yaitu jilbab dipakai hanya pada saat tertentu atau pada kegiatan tertentu, kendurian, acara pengajian kampung dsb, setelah itu jilbab dicopot dan yang ada kebanyakan jilbab tersebut sekedar mampir alias tidak sampai menutup rambut atau menutup kepala.&lt;br /&gt;Terkadang, kalau ditanyakan kepada mereka, mengapa kalian berbuat (melakukan) yang demikian, tidak memakai jilbab yang syar’i, padahal telah mengetahui bagaimana jilbab yang syar’i, sering didapati jawaban, “Yaa, pengen aja “, atau “Belum siap “, atau “Mendingan begini daripada tidak memakai jilbab sama sekali “, atau ” Jilbab itu khan tidak hanya satu bentuk, jilbab khan bisa dimodofikasi yang penting khan menutup aurat ” terkadang didapati juga jawaban, “Kok kamu yang ribut, khan emang sudah menjadi mode yang seperti ini!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, dituntutnya jilbab dengan syarat-syarat yang telah ditentukan sesuai dengan hukum syara’ yang disebutkan di atas, sesungguhnya akan membawa kebaikan bagi kita sendiri, baik di dunia maupun di akhirat dan bukan didasari atas nafsu atau ditujukan untuk mengekang kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Janganlah sampai suatu kaum, dimana mereka meremehkan perempuan-perempuan/muslimah yang berjilbab hanya karena memakai pakaian/jilbab yang tidak sesuai dengan hukum syara’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila kaum telah meremehkan hal ini, maka bagaimana dengan pandangan (penilaian) Allah dan Rasul -Nya terhadap wantia yang seperti ini ? Tidakkah ada bedanya antara perempuan yang berjilbab dengan perempuan yang tidak berjilbab ?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7691179376729983196-7683459705295867868?l=artikel-yusnita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artikel-yusnita.blogspot.com/feeds/7683459705295867868/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://artikel-yusnita.blogspot.com/2008/12/jilbab-syari-dan-jilbab-funky.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7691179376729983196/posts/default/7683459705295867868'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7691179376729983196/posts/default/7683459705295867868'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artikel-yusnita.blogspot.com/2008/12/jilbab-syari-dan-jilbab-funky.html' title='Jilbab Syar&apos;i dan Jilbab Funky'/><author><name>yusnita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16310528700403292730</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7691179376729983196.post-1606031759057938882</id><published>2008-12-23T19:44:00.000-08:00</published><updated>2008-12-23T20:02:05.000-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keutamaan bulan² Islam'/><title type='text'>Keutamaan 10 Hari Pertama Bulan Dzulhijjah Dan Amalan Yang Disyariatkan</title><content type='html'>Segala puji bagi Allah semata, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, Nabi kita Muhammad, kepada keluarga dan segenap sahabatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Rahimahullah, dari Ibnu 'Abbas Radhiyallahu 'Anhuma bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Tidak ada hari dimana amal shalih pada saat itu lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini, yaitu : Sepuluh hari dari bulan Dzulhijjah. Mereka bertanya : Ya Rasulullah, tidak juga jihad fi sabilillah ?. Beliau menjawab : Tidak juga jihad fi sabilillah, kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan sesuatu apapun".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ahmad, Rahimahullah, meriwayatkan dari Umar Radhiyallahu 'Anhuma, bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Tidak ada hari yang paling agung dan amat dicintai Allah untuk berbuat kebajikan di dalamnya daripada sepuluh hari (Dzulhijjah) ini. Maka perbanyaklah pada saat itu tahlil, takbir dan tahmid".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MACAM-MACAM AMALAN YANG DISYARIATKAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1]. Melaksanakan Ibadah Haji Dan Umrah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amal ini adalah amal yang paling utama, berdasarkan berbagai hadits shahih yang menunjukkan keutamaannya, antara lain : sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Dari umrah ke umrah adalah tebusan (dosa-dosa yang dikerjakan) di antara keduanya, dan haji yang mabrur balasannya tiada lain adalah Surga".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2].  Berpuasa Selama Hari-Hari Tersebut, Atau Pada Sebagiannya, Terutama Pada Hari Arafah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak disangsikan lagi bahwa puasa adalah jenis amalan yang paling utama, dan yang dipilih Allah untuk diri-Nya. Disebutkan dalam hadist Qudsi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Puasa ini adalah untuk-Ku, dan Aku lah yang akan membalasnya. Sungguh dia telah meninggalkan syahwat, makanan dan minumannya semata-mata karena Aku".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri, Radhiyallahu 'Anhu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Tidaklah seorang hamba berpuasa sehari di jalan Allah melainkan Allah pasti menjauhkan dirinya dengan puasanya itu dari api neraka selama tujuh puluh tahun". [Hadits Muttafaq 'Alaih].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Qatadah Rahimahullah bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Berpuasa pada hari Arafah karena mengharap pahala dari Allah melebur dosa-dosa setahun sebelum dan sesudahnya".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3]. Takbir Dan Dzikir Pada Hari-Hari Tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana firman Allah Ta'ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : .... dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan ...". [Al-Hajj : 28].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ahli tafsir menafsirkannya dengan sepuluh hari dari bulan Dzulhijjah. Karena itu, para ulama menganjurkan untuk memperbanyak dzikir pada hari-hari tersebut, berdasarkan hadits dari Ibnu Umar Radhiyallahu 'Anhuma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Maka perbanyaklah pada hari-hari itu tahlil, takbir dan tahmid". [Hadits Riwayat Ahmad].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Bukhari Rahimahullah menuturkan bahwa Ibnu Umar dan Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhuma keluar ke pasar pada sepuluh hari tersebut seraya mengumandangkan takbir lalu orang-orangpun mengikuti takbirnya. Dan Ishaq, Rahimahullah, meriwayatkan dari fuqaha', tabiin bahwa pada hari-hari ini mengucapkan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa Ilaha Ilallah, wa-Allahu Akbar, Allahu Akbar wa Lillahil Hamdu"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Tidak ada Ilah (Sembahan) Yang Haq selain Allah. Dan Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, segala puji hanya bagi Allah".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dianjurkan untuk mengeraskan suara dalam bertakbir ketika berada di pasar, rumah, jalan, masjid dan lain-lainnya. Sebagaimana firman Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu ...". [Al-Baqarah : 185].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak dibolehkan mengumandangkan takbir bersama-sama, yaitu dengan berkumpul pada suatu majlis dan mengucapkannya dengan satu suara (koor). Hal ini tidak pernah dilakukan oleh para Salaf. Yang menurut sunnah adalah masing-masing orang bertakbir sendiri-sendiri. Ini berlaku pada semua dzikir dan do'a, kecuali karena tidak mengerti sehingga ia harus belajar dengan mengikuti orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan diperbolehkan berdzikir dengan yang mudah-mudah. Seperti : takbir, tasbih dan do'a-do'a lainnya yang disyariatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[4].  Taubat Serta Meninggalkan Segala Maksiat Dan Dosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga akan mendapatkan ampunan dan rahmat. Maksiat adalah penyebab terjauhkan dan terusirnya hamba dari Allah, dan keta'atan adalah penyebab dekat dan cinta kasih Allah kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu, bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Sesungguhnya Allah itu cemburu, dan kecemburuan Allah itu manakala seorang hamba melakukan apa yang diharamkan Allah terhadapnya" [Hadits Muttafaq 'Alaihi].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[5]. Banyak Beramal Shalih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berupa ibadah sunat seperti : shalat, sedekah, jihad, membaca Al-Qur'an, amar ma'ruf nahi munkar dan lain sebagainya. Sebab amalan-amalan tersebut pada hari itu dilipat gandakan pahalanya. Bahkan amal ibadah yang tidak utama bila dilakukan pada hari itu akan menjadi lebih utama dan dicintai Allah daripada amal ibadah pada hari lainnya meskipun merupakan amal ibadah yang utama, sekalipun jihad yang merupakan amal ibadah yang amat utama, kecuali jihad orang yang tidak kembali dengan harta dan jiwanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[6]. Disyariatkan Pada Hari-Hari Itu Takbir Muthlaq&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yaitu pada setiap saat, siang ataupun malam sampai shalat Ied. Dan disyariatkan pula takbir muqayyad, yaitu yang dilakukan setiap selesai shalat fardhu yang dilaksanakan dengan berjama'ah ; bagi selain jama'ah haji dimulai dari sejak Fajar Hari Arafah dan bagi Jama’ah Haji dimulai sejak Dzhuhur hari raya Qurban terus berlangsung hingga shalat Ashar pada hari Tasyriq.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[7]. Berkurban Pada Hari Raya Qurban Dan Hari-hari Tasyriq.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini adalah sunnah Nabi Ibrahim 'Alaihissalam, yakni ketika Allah Ta'ala menebus putranya dengan sembelihan yang agung. Diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Berkurban dengan menyembelih dua ekor domba jantan berwarna putih dan bertanduk. Beliau sendiri yang menyembelihnya dengan menyebut nama Allah dan bertakbir, serta meletakkan kaki beliau di sisi tubuh domba itu". [Muttafaq 'Alaihi].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[8]. Dilarang Mencabut Atau Memotong Rambut Dan Kuku Bagi Orang Yang Hendak Berkurban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan oleh Muslim dan lainnya, dari Ummu Salamah Radhiyallhu 'Anha bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Jika kamu melihat hilal bulan Dzul Hijjah dan salah seorang di antara kamu ingin berkurban, maka hendaklah ia menahan diri dari (memotong) rambut dan kukunya".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam riwayat lain :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maka janganlah ia mengambil sesuatu dari rambut atau kukunya sehingga ia berkurban".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini, mungkin, untuk menyerupai orang yang menunaikan ibadah haji yang menuntun hewan  kurbannya. Firman Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : ..... dan jangan kamu mencukur (rambut) kepalamu, sebelum kurban sampai di tempat penyembelihan...". [Al-Baqarah : 196].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Larangan ini, menurut zhahirnya, hanya dikhususkan bagi orang yang berkurban saja, tidak termasuk istri dan anak-anaknya, kecuali jika masing-masing dari mereka berkurban. Dan diperbolehkan membasahi rambut serta menggosoknya, meskipun terdapat beberapa rambutnya yang rontok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[9]. Melaksanakan Shalat Iedul Adha Dan Mendengarkan Khutbahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap muslim hendaknya memahami hikmah disyariatkannya hari raya ini. Hari ini adalah hari bersyukur dan beramal kebajikan. Maka janganlah dijadikan sebagai hari keangkuhan dan kesombongan ; janganlah dijadikan kesempatan bermaksiat dan bergelimang dalam kemungkaran seperti ; nyanyi-nyanyian, main judi, mabuk-mabukan dan sejenisnya. Hal mana akan menyebabkan terhapusnya amal kebajikan yang dilakukan selama sepuluh hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[10]. Selain Hal-Hal Yang Telah Disebutkan Diatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hendaknya setiap muslim dan muslimah mengisi hari-hari ini dengan melakukan ketaatan, dzikir dan syukur kepada Allah, melaksanakan segala kewajiban dan menjauhi segala larangan ; memanfaatkan kesempatan ini dan berusaha memperoleh kemurahan Allah agar mendapat ridha-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah melimpahkan taufik-Nya dan menunjuki kita kepada jalan yang lurus. Dan shalawat serta salam semoga tetap tercurah kepada Nabi Muhammad, kepada keluarga dan para sahabatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Artikel bahasa Arab dapat dilihat di http://www.saaid.net/mktarat/hajj/4.htm Disalin dari brosur yang dibagiakn secara cuma-cuma, tanpa no, bulan dan tahun]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7691179376729983196-1606031759057938882?l=artikel-yusnita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artikel-yusnita.blogspot.com/feeds/1606031759057938882/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://artikel-yusnita.blogspot.com/2008/12/keutamaan-10-hari-pertama-bulan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7691179376729983196/posts/default/1606031759057938882'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7691179376729983196/posts/default/1606031759057938882'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artikel-yusnita.blogspot.com/2008/12/keutamaan-10-hari-pertama-bulan.html' title='Keutamaan 10 Hari Pertama Bulan Dzulhijjah Dan Amalan Yang Disyariatkan'/><author><name>yusnita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16310528700403292730</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7691179376729983196.post-92937773522711224</id><published>2008-12-23T03:18:00.000-08:00</published><updated>2008-12-23T20:00:04.372-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cermin Hati'/><title type='text'>Penyejuk Hati, Pelapang Dada</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span class="btitle"&gt;Agar Dada Seorang Hamba menjadi Lapang dan Bersinar&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;Penulis: Al-Ustadz Dzulqarnain Bin Muhammad Sanusi&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Hiruk pikuk kehidupan dengan berbagai bentuk aktivitas yang terus bergulir tanpa henti sering melahirkan halangan dan tantangan yang mengantar seorang hamba kepada gundah gulana dan ketidaktenangan hati. Namun bagi seorang mukmin sejati, cahaya Al-Qur’ân dan Sunnah Rasulullah &lt;em&gt;shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam&lt;/em&gt; adalah penerang jalan menuju kepada kehidupan indah yang senantiasa membuat dadanya lapang dan bercahaya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Hidup dengan dada yang lapang adalah suatu nikmat yang sangat berharga dan dambaan setiap insan. Renungilah besarnya nikmat ini sehingga Allah &lt;em&gt;‘Azza wa Jalla&lt;/em&gt; mengingatkan Nabi-Nya terhadap karunia tersebut dalam firman-Nya, &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;“Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?”&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; (&lt;strong&gt;QS. Al-Insyirâh :1&lt;/strong&gt;)&lt;span id="more-961"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Dan Nabi Musa &lt;em&gt;‘alaissalâm&lt;/em&gt; setelah beliau dimuliakan menjadi seorang rasul, maka awal doa beliau kepada Allah &lt;em&gt;Subhânahu Wa Ta’âlâ&lt;/em&gt;,&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;“Berkata Musa: “Ya Rabbku, lapangkanlah untukku dadaku,”…”&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; (&lt;strong&gt;QS. Thohâ :25&lt;/strong&gt;)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Banyak hal dalam tuntunan syari’at kita yang diterangkan sebagai tumpuan-tumpuan berpijak bagi seorang hamba agar senantiasa berhati lapang dan bercahaya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Berikut ini, beberapa pilar pelapang dada seorang hamba, kami simpulkan dari keterangan Ibnul Qayyim&lt;a name="_ftnref1" href="http://an-nashihah.com/#_ftn1"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;&amp;quot;;" lang="EN-GB"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;dan selainnya :&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; &lt;/span&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;strong&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&lt;span&gt;1.&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Memurnikan Tauhid.&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Memurnikan peribadatan kepada Allah &lt;em&gt;Taqaddasa Dzikruhu&lt;/em&gt; adalah tonggak keselamatan, tujuan dari penciptaan manusia, misi dakwah setiap nabi yang diutus kepada makhluk dan itulah adalah hakikat dari Islam yang bermakna berserah diri, ikhlash dan tunduk kepada-Nya. Maka sangat wajar bila memurnikan tauhid adalah hal yang sangat melapangkan dada dan meneranginya. Allah &lt;em&gt;‘Azza wa Jalla&lt;/em&gt; berfirman dalam &lt;em&gt;Al-Qur’ân Al-Karîm&lt;/em&gt;,&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;“Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Rabbnya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.”&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; (&lt;strong&gt;QS. Az-Zumar :22&lt;/strong&gt;)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;“Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; &lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Dan inilah jalan Rabbmu; (jalan) yang lurus. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan ayat-ayat (Kami) kepada orang-orang yang mengambil pelajaran.”&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; (&lt;strong&gt;QS. Al-An’âm :125-126&lt;/strong&gt;)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Dan dengan memurnikan ibadah kepada Allah &lt;em&gt;‘Azza wa Jalla&lt;/em&gt; manusia akan hidup di bawah teduhan keamanan dan kesejahteraan. Sebagaimana dalam firman-Nya,&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan keimanan mereka dengan kezhaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.”&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; (&lt;strong&gt;QS. Al-An’âm :82&lt;/strong&gt;)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Dan dalam &lt;em&gt;Tanzil&lt;/em&gt;-Nya,&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. &lt;strong&gt;Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku&lt;/strong&gt;. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.”&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; (&lt;strong&gt;QS. An-Nûr : 55&lt;/strong&gt;)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; &lt;/span&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;strong&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&lt;span&gt;2.&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Berpegang teguh terhadap Al-Qur’ân dan As-Sunnah.&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Allah &lt;em&gt;Jalla wa ‘Alâ&lt;/em&gt; menurunkan Al-Qur`ân sebagai rahmat dan kebahagian bagi orang-orang yang beriman, sebagaimana dalam firman-Nya,&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;“Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur`an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.”&lt;/em&gt; (&lt;strong&gt;QS. An-Nahl : 89&lt;/strong&gt;)&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Dan Allah &lt;em&gt;Ta’âlâ&lt;/em&gt; berfirman,&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;“Dan Kami turunkan dari Al-Qur`ân suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Qur`ân itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zhalim selain kerugian.”&lt;/em&gt; (&lt;strong&gt;QS. Al-Isrô` : 82&lt;/strong&gt;)&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Dan Nabi &lt;em&gt;shollallâhu ‘alaihi wa ‘alâ âlihi wa sallam&lt;/em&gt; menyatakan,&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; direction: rtl; unicode-bidi: embed;" dir="rtl" align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;لَقَدْ تَرَكْتُكُمْ عَلَى الْبَيْضَاءِ لَيْلِهَا كَنَهَارِهَا لَا يَزِيْغُ بَعْدِيْ عَنْهَا إِلَّا هَالِكٌ&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;“Sungguh saya telah meninggalkan kalian di atas suatu yang sangat putih, malamnya sama dengan siangnya, tidaklah seorangpun menyimpang darinya setelahku kecuali akan binasa.”&lt;/em&gt; &lt;a name="_ftnref2" href="http://an-nashihah.com/#_ftn2"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Maka sangatlah lumrah bagi siapa yang berpegang teguh terhadap tuntunan Al-Qur`ân dan As-Sunnah akan senantiasa membuat dadanya lapang dan bersinar penuh petunjuk dan kebahagian tanpa ada kesensaraan. Sebagaimana dalam firman-Nya,&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;“Barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; &lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.”&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; (&lt;strong&gt;QS. &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;Thôhâ : 123-124&lt;/strong&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;“Thaahaa.&lt;/em&gt; &lt;em&gt;Kami tidak menurunkan Al-Qur`ân ini kepadamu agar kamu menjadi susah;&lt;/em&gt; &lt;em&gt;tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah).”&lt;/em&gt; (&lt;strong&gt;QS. Thôhâ : 1-3&lt;/strong&gt;)&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;strong&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&lt;span&gt;3.&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Berbekal Ilmu Syari’at.&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Tatkala seluruh kebaikan bagi manusia tercakup dalam ilmu syari’at maka segala kebahagian dan ketenangan, keberhasilan dan kebahagian manusia sangat bertumpu pada ilmu syari’at. Karena itu Allah &lt;em&gt;Ta’âlâ&lt;/em&gt; tidak memerintah Nabi-Nya untuk meminta tambahan nikmat apapun selain dari tambahan ilmu. Allah &lt;em&gt;Ta’âlâ &lt;/em&gt;berfirman,&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;“Dan katakanlah, “Ya Rabbku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.”.”&lt;/em&gt; (&lt;strong&gt;QS. Thôhâ : 114&lt;/strong&gt;)&lt;span lang="EN-GB"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Dan dengan ilmu syari’at itulah diraihnya berbagai derajat keutamaan di dunia dan akhirat. Sebagaimana dalam firman-Nya,&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.”&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; (&lt;strong&gt;QS. Al-Mujâdilah :11&lt;/strong&gt;)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Berkata Ibnul Qayyim &lt;em&gt;rahimahullâh&lt;/em&gt;, “Sesungguhnya ilmu itu melapangkan dada dan meluaskannya sehingga ia menjadi lebih luas dari dunia. Dan kejahilan akan mewariskan kesempitan, keterbatasan dan keterkurungan. Kapan ilmu seorang hamba semakin luas maka dadanya akan semakin lapang dan lebih meluas. Namun ini bukanlah pada setiap ilmu, bahkan hanya pada ilmu yang terwarisi dari Ar-Rasul &lt;em&gt;shallallâhu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; yaitu ilmu yang bermanfaat. Orang-orang yang berilmu (merekalah) yang paling lapang dadanya, paling luas hatinya, paling indah akhlaknya dan paling baik kehidupannya.” &lt;a name="_ftnref3" href="http://an-nashihah.com/#_ftn3"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;&amp;quot;;" lang="EN-GB"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;strong&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&lt;span&gt;4.&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Kecintaan Kepada Allah.&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Salah satu sifat yang wajib dimiliki oleh seorang yang beriman bahwa kecintaannya kepada Allah adalah yang terbesar dan melebihi kecintaannya kepada seluruh makhluk. Allah berfirman,&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah.”&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; (&lt;strong&gt;QS. Al-Baqarah :165&lt;/strong&gt;)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Kecintaannya kepada Allah tersebut akan mengantar seorang hamba menuju kehidupan yang sangat indah, kelapangan hati dan ketenangan jiwa karena rongga hatinya hanya terpenuhi oleh kecintaan kepada Allah dan ketergantungan kepada-Nya. Wajarlah bila Rasulullah &lt;em&gt;shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam&lt;/em&gt; bersabda,&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: rtl; unicode-bidi: embed;" dir="rtl"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيْمَانِ أَنْ يَكُوْنَ اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءُ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا للهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُوْدَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 4pt;" dir="ltr" lang="EN-GB"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;“Tiga (sifat) yang tidaklah terdapat pada seseorang, pasti ia akan mendapatkan kelezatan iman; hendaknya Allah dan Rasul-Nya yang paling ia cintai melebihi selain keduanya, dan ia mencintai seseorang, tidaklah ia mencintainya melainkan hanya karena Allah, serta ia benci untuk kembali kepada kekufuran sebagaimana ia benci untuk dilemparkan ke dalam api neraka.”&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;a name="_ftnref4" href="http://an-nashihah.com/#_ftn4"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;&amp;quot;;" lang="EN-GB"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;strong&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&lt;span&gt;5.&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Senantiasa bertaubat.&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;Menyadari kekurangan, menyesali kesalahan dan bertaubat kepada Yang Maha Mencipta adalah diantara sifat-sifat yang memberikan berbagai keajaiban dalam kehidupan seorang hamba dan sangat menerangi hati serta melapangkan dadanya. Karena itu, sikap senantiasa bertaubat sangat ditekankan dalam tuntunan syari’at Islam yang mulia. Allah menjamin keberuntungan bagi orang-orang yang senatiasa bertaubat,&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span&gt;“Dan bertaubatlah kalian sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kalian beruntung.”&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span&gt; (&lt;strong&gt;Q.S. An-Nûr :31&lt;/strong&gt;)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Dari doa Nabi Ibrahim &lt;em&gt;‘alaissalâm&lt;/em&gt; untuk mengujudkan keamanan dan kesejahteraan pada negeri Mekkah yang dirintisnya,&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span&gt;“Ya Rabb kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadat haji kami, dan berilah taubat untuk kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.”&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span&gt; (&lt;strong&gt;Q.S. Al-Baqarah :128&lt;/strong&gt;)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;Dan sangatlah indah kehidupan orang-orang yang bertaubat tatkala sifat mulia mereka itu akan memberikan berbagai keutamaan dan kenikmatan sebagai hamba-hamba yang dicintai oleh Allah. Sebagaimana dalam firman-Nya,&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span&gt;“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.”&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span&gt; (&lt;strong&gt;Q.S. Al-Baqarah :222&lt;/strong&gt;)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;strong&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&lt;span&gt;6.&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Dzikir.&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Dzikir adalah penyejuk hati dan penenang jiwa. Allah &lt;em&gt;Subhânahu&lt;/em&gt;&lt;em&gt; Wa&lt;/em&gt;&lt;em&gt; Ta’âlâ&lt;/em&gt; berfirman,&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span&gt;“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan dzikir kepada Allah. Ingatlah, hanya dengan dzikir kepada Allah-lah hati menjadi tenteram.”&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span&gt; (&lt;strong&gt;Q.S. Ar-Ra’d :28&lt;/strong&gt;)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;Dengan dzikir seorang hamba akan mendapatkan pengampunan dan pahala yang sangat besar,&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span&gt;“…dan laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.”&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span&gt; (&lt;strong&gt;Q.S. Al-Ahzâb :35&lt;/strong&gt;)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;Dan keberuntungan bagi orang-orang yang banyak berdzikir,&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span&gt;Dan dzikirlah kepada Allah sebanyak-banyaknya supaya kalian beruntung.”&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span&gt; (&lt;strong&gt;Q.S. Al-Jumu’ah :10&lt;/strong&gt;)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;Dan sungguh dzikir membuat hati seorang hamba menjadi lapang dan bersinar tanpa ada kerugian seperti yang terjadi pada orang-orang lalai,&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span&gt;“Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-harta dan anak-anak kalian melalaikan kalian dari dzikir kepada Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.”&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span&gt; (&lt;strong&gt;Q.S. Al-Munâfiqûn :9&lt;/strong&gt;)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;strong&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&lt;span&gt;7.&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Berbuat baik kepada Makhluk.&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Memberi manfaat kepada makhluk dengan harta, badan, kedudukan dan selainnya dari berbagai bentuk perbuatan baik adalah hal yang sangat melapangkan dada seorang hamba dan meneranginya. Karena itu Allah &lt;em&gt;‘Azza wa Jalla&lt;/em&gt; memerintah dalam firman-Nya,&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;“Sesungguhnya Allah menyuruh untuk berlaku adil, &lt;strong&gt;berbuat kebajikan&lt;/strong&gt;, dan memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepada kalian agar kalian dapat mengambil pelajaran.”&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; (&lt;strong&gt;Q.S. An-Nahl :90&lt;/strong&gt;)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Dan Rasulullah &lt;em&gt;shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam&lt;/em&gt; bersabda,&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: rtl; unicode-bidi: embed;" dir="rtl"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;إِنَّ اللهَ كَتَبَ الْإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةِ وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذِّبْحَةِ وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ فَلْيُرِحْ ذَبِيْحَتَهُ&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="font-size: 4pt;" dir="ltr" lang="EN-GB"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;“Sesusngguhnya Allah telah menetapkan untuk berbuat kebajikan terhadap segala sesuatu. Maka apabila kalian membunuh perbaiklah cara membunuhnya, apabila kalian menyembelih perbaiklah cara menyembelihnya dan hendaknya salah seorang dari kalian mempertajam pisaunya dan membuat tenang sembelihannya.”&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; &lt;a name="_ftnref5" href="http://an-nashihah.com/#_ftn5"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;&amp;quot;;" lang="EN-GB"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Dan di akhirat kelak Allah menjanjikan,&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di dalam taman-taman (surga) dan di mata air-mata air,&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; &lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;sambil mengambil apa yang diberikan kepada mereka oleh Rabb mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat baik.”&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; (&lt;strong&gt;Q.S. Adz-Dzâriyât :15-16&lt;/strong&gt;)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; Demikian beberapa pilar pelapang dada seorang mukmin. Dan perlu diketahui bahwa segala perkara yang bertentangan dengan apa yang disebutkan di atas pasti akan memberikan kesempitan, kesesakan dan gundah gulana. Karena itu, tidak seorang pun yang lebih sempit hatinya dari pelaku kesyirikan. Dan siapa yang berpaling dari Al-Qur`ân dan As-Sunnah maka ia akan senantiasa berada dalam berbagai kesengsaraan. Orang yang tidak memiliki ilmu syar’iy akan jauh dari makna ketenangan. Hati yang tergantung kepada selain Allah akan merasakan berbagai kepedihan dan kepahitan. Dan hati yang lalai dari dzikir kepada Allah bagaikan ikan yang dipisahkan dari air. Dan jeleknya hubungan dengan makhluk lain akan melahirkan berbagai problem dalam kehidupan. Dan demikianlah seterusnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Tentunya banyak tuntunan pelapang dada yang belum bisa diuraikan disini. Namun kami berharap keterangan-keterangan di atas bisa menjadi pencerahan dan penyenjuk bagi setiap muslim dan muslim dalam mempersiapkan bekal untuk menyonsong kehidupan kekal abadi di akhirat kelak. &lt;em&gt;Waffaqallâhu Al-Jamî’ li mâ yuhibbihu wa yardhâhu&lt;/em&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;&amp;quot;;" dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى عَبْدِهِ وَرَسُوْلِهِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ.&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt; &lt;hr size="1"&gt;&lt;!--[endif]--&gt; &lt;div id="ftn1"&gt; &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a name="_ftn1" href="http://an-nashihah.com/#_ftnref1"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="EN-ID"&gt;&lt;span&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;&amp;quot;;" lang="EN-ID"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="EN-ID"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Dalam kitabnya &lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Zâdul Ma’âd&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; 2/22-26, cet. Ke-3 dari Mu`assah Ar-Risalah&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id="ftn2"&gt; &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a name="_ftn2" href="http://an-nashihah.com/#_ftnref2"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span&gt; Diriwayatkan oleh Ahmad 4/126, Ibnu Mâjah no. 5, 43, Ibnu Abi ‘Âshim no. 48-49 dan Al-Hâkim 1/96 dari hadits Abu Dardâ` &lt;em&gt;radhiyallâhu ‘anhu&lt;/em&gt;. Dan dishohihkan oleh Al-Albâny dalam &lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span&gt;Zhilâlul Jannah&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span&gt; 1/27.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id="ftn3"&gt; &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a name="_ftn3" href="http://an-nashihah.com/#_ftnref3"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="EN-ID"&gt;&lt;span&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;&amp;quot;;" lang="EN-ID"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="EN-ID"&gt; &lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Zâdul Ma’âd&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; 2/23&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id="ftn4"&gt; &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a name="_ftn4" href="http://an-nashihah.com/#_ftnref4"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="EN-ID"&gt;&lt;span&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;&amp;quot;;" lang="EN-ID"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="EN-ID"&gt; Dikeluarkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik &lt;em&gt;radhiyallâhu ‘anhu&lt;/em&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id="ftn5"&gt; &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a name="_ftn5" href="http://an-nashihah.com/#_ftnref5"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="EN-ID"&gt;&lt;span&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;&amp;quot;;" lang="EN-ID"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="EN-ID"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;Hadits Syaddâd bin Aus &lt;em&gt;radhiyallâhu ‘anhu&lt;/em&gt; riwayat Muslim.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7691179376729983196-92937773522711224?l=artikel-yusnita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artikel-yusnita.blogspot.com/feeds/92937773522711224/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://artikel-yusnita.blogspot.com/2008/12/penyejuk-hati-pelapang-dada.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7691179376729983196/posts/default/92937773522711224'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7691179376729983196/posts/default/92937773522711224'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artikel-yusnita.blogspot.com/2008/12/penyejuk-hati-pelapang-dada.html' title='Penyejuk Hati, Pelapang Dada'/><author><name>yusnita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16310528700403292730</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7691179376729983196.post-6716966247596307848</id><published>2008-12-23T02:48:00.000-08:00</published><updated>2008-12-23T19:58:20.866-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum Islam'/><title type='text'>Hukum Merry Christmas &amp; New Years Days</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 255);"&gt;&lt;strong&gt;Hukum Menyambut dan Merayakan Hari Raya Non-Muslim (Natal/Tahun Baru/Imlek, red)&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sesungguhnya di antara konsekwensi terpenting dari sikap membenci orang-orang kafir ialah menjauhi syi’ar dan ibadah mereka. Sedangkan syi’ar mereka yang paling besar adalah hari raya mereka, baik yang berkaitan dengan tempat maupun waktu. Maka orang Islam berkewajiban menjauhi dan meninggalkannya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ada seorang lelaki yang datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk meminta fatwa karena ia telah bernadzar memotong hewan di Buwanah (nama sebuah tempat), maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menanyakan kepadanya (yang artinya) : ” Apakah disana ada berhala, dari berhala-berhala orang Jahiliyah yang disembah ?” Dia menjawab, “Tidak”. Beliau bertanya, “Apakah di sana tempat dilaksanakannya hari raya dari hari raya mereka ?” Dia menjawab, “Tidak”. Maka Nabi bersabda, “Tepatillah nadzarmu, karena sesungguhnya tidak boleh melaksanakan nadzar dalam maksiat terhadap Allah dalam hal yang tidak dimiliki oleh anak Adam.” [Hadits Riwayat Abu Daud dengan sanad yang sesuai dengan syarat Al-Bukhari dan Muslim]&lt;span id="more-981"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Hadits di atas menunjukkan, tidak bolehnya menyembelih untuk Allah di bertepatan dengan tempat yang digunakan menyembelih untuk selain Allah; atau di tempat orang-orang kafir merayakan pesta atau hari raya. Sebab hal itu berarti mengikuti mereka dan menolong mereka di dalam mengagungkan syi’ar-syi’ar mereka, dan juga karena menyerupai mereka atau menjadi wasilah yang mengantarkan kepada syirik. Begitu pula ikut merayakan hari raya (hari besar) mereka mengandung wala’ (loyalitas) kepada mereka dan mendukung mereka dalam menghidupkan syi’ar-syi’ar mereka.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Di antara yang dilarang adalah menampakkan rasa gembira pada hari raya mereka, meliburkan pekerjaan (sekolah), memasak makanan-makanan sehubungan dengan hari raya mereka (kini kebanyakan berpesiar, berlibur ke tempat wisata, konser, acara musik, diakhiri mabuk-mabukan atau perzinaan, red).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dan di antaranya lagi ialah mempergunakan kalender Masehi, karena hal itu menghidupkan kenangan terhadap hari raya Natal bagi mereka. Karena itu para shahabat menggunakan kalender Hijriyah sebagai gantinya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Syaikhul Islam Ibnu Timiyah berkata, “Ikut merayakan hari-hari besar mereka tidak diperbolehkan karena dua alasan.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pertama.&lt;/strong&gt; Bersifat umum, seperti yang telah dikemukakan di atas bahwa hal tersebut berarti mengikuti ahli Kitab, yang tidak ada dalam ajaran kita dan tidak ada dalam kebiaasaan Salaf. Mengikutinya berarti mengandung kerusakan dan meninggalkannya terdapat maslahat menyelisihi mereka. Bahkan seandainya kesamaan yang kita lakukan merupakan sesuatu ketetapan semata, bukan karena mengambilnya dari mereka, tentu yang disyari’atkan adalah menyelisihiya karena dengan menyelisihinya terdapat maslahat seperti yang telah diisyaratkan di atas. Maka barangsiapa mengikuti mereka, dia telah kehilangan maslahat ini sekali pun tidak melakukan mafsadah (kerusakan) apa pun, terlebih lagi kalau dia melakukannya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Alasan Kedua. &lt;/strong&gt;Karena hal itu adalah bid’ah yang diada adakan. Alasan ini jelas menunjukkan bahwa sangat dibenci hukumnya menyerupai mereka dalam hal itu.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Beliau juga mengatakan, “Tidak halal bagi kaum muslimin ber-Tasyabuh (menyerupai) mereka dalam hal-hal yang khusus bagi hari raya mereka; seperti, makanan, pakaian, mandi, menyalakan lilin, meliburkan kebiasaan seperti bekerja dan beribadah ataupun yang lainnya. Tidak halal mengadakan kenduri atau memberi hadiah atau menjual barang-barang yang diperlukan untuk hari raya tersebut. Tidak halal mengizinkan anak-anak ataupun yang lainnya melakukan permainan pada hari itu, juga tidak boleh menampakkan perhiasan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ringkasnya, tidak boleh melakukan sesuatu yang menjadi ciri khas dari syi’ar mereka pada hari itu. (Dalam &lt;em&gt;Iqtidha Shirathal Mustaqim&lt;/em&gt;, pentahqiq Dr. Nashir Al-’Aql 1/425-426).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Hari raya mereka bagi umat Islam haruslah seperti hari-hari biasanya, tidak ada hal istimewa atau khusus yang dilakukan umat Islam. Adapun jika dilakukan hal-hal tersebut oleh umat Islam dengan sengaja [1] maka berbagai golongan dari kaum salaf dan khalaf menganggapnya makruh. Sedangkan pengkhususan seperti yang tersebut di atas maka tidak ada perbedaan di antara ulama, bahkan sebagian ulama menganggap kafir orang yang melakukan hal tersebut, karena dia telah mengagungkan syi’ar-syi’ar kekufuran.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Segolongan ulama mengatakan. “Siapa yang menyembelih kambing pada hari raya mereka (demi merayakannya), maka seolah-olah dia menyembelih babi”. Abdullah bin Amr bin Ash berkata, “Siapa yang mengikuti negera-negara ‘ajam (non Islam) dan melakukan perayaan Nairuz [2] dan Mihrajan [3] serta menyerupai mereka sampai ia meninggal dunia dan dia belum bertobat, maka dia akan dikumpulkan bersama mereka pada Hari Kiamat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Footnote :&lt;br /&gt;[1] Mungkin yang dimaksud (yang benar) adalah ‘tanpa sengaja’.&lt;br /&gt;[2] Nairuz atau Nauruz (bahasa Persia) hari baru, pesta tahun baru Iran yang&lt;br /&gt;bertepatan dengan tanggal 21 Maret -pent.&lt;br /&gt;[3] Mihrajan, gabungan dari kata &lt;em&gt;mihr &lt;/em&gt;(matahari) dan &lt;em&gt;jan &lt;/em&gt;(kehidupan atau ruh), yaitu perayaan pada pertengahan musim gugur, di mana udara tidak panas dan tidak dingin. Atau juga merupakan istilah bagi pesta yang diadakan untuk hari bahagia -pent.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(Dinukil dari tulisan Dr Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan, dalam kitab &lt;em&gt;At-Tauhid Lish-Shaffil Awwal Al-Aliy&lt;/em&gt;[Edisi Indonesia, &lt;em&gt;Kitab Tauhid 1&lt;/em&gt;])&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 255);"&gt;&lt;strong&gt;Bagaimana semestinya sikap Muslim yang tepat menyikapi hari raya Natal/Tahun Baru/Non Muslim lainnya?&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Berikut Nasihat dari Komisi Tetap Saudi Arabia&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Sesungguhnya nikmat terbesar yang diberikan oleh Allah Subhannahu wa Ta’ala kepada hamba-Nya adalah nikmat Islam dan iman serta istiqomah di atas jalan yang lurus. Allah Subhannahu wa Ta’ala telah memberitahukan bahwa yang dimaksud jalan yang lurus adalah jalan yang ditempuh oleh hamba-hamba-Nya yang telah diberi nikmat dari kalangan para nabi, shiddiqin, syuhadaa dan sholihin (Qs. An Nisaa :69).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jika diperhatikan dengan teliti, maka kita dapati bahwa musuh-musuh Islam sangat gigih berusaha mema-damkan cahaya Islam, menjauhkan dan menyimpangkan ummat Islam dari jalan yang lurus, sehingga tidak lagi istiqomah.Hal ini diberitahukan sendiri oleh Allah Ta’ala di dalam firman-Nya, diantaranya, yang artinya: “Sebagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka ma’afkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. 2:109)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Firman Allah Subhannahu wa Ta’ala yang lain, artinya: “Katakanlah:  “Hai Ahli Kitab, mengapa kamu menghalang-halangi dari jalan Allah orang-orang yang telah beriman, kamu menghendakinya menjadi beng-kok, padahal kamu menyaksikan”. Allah sekali-kali tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan. (QS. 3:99)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Firman ALLAH (yang artinya): ” Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menta’ati orang-orang yang kafir itu, niscaya mereka mengembalikan kamu kebelakang (kepada kekafiran), lalu jadilah kamu orang-orang yang rugi”. (QS. 3:149)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Salah satu cara mereka untuk menjauhkan umat Islam dari agama (jalan yang lurus) yakni dengan menyeru dan mempublikasikan hari-hari besar mereka ke seluruh lapisan masyara-kat serta dibuat kesan seolah-oleh hal itu merupakan hari besar yang sifatnya umum dan bisa diperingati oleh siapa saja. Oleh karena itu, Komisi Tetap Urusan Penelitian Ilmiyah dan Fatwa Kerajaan Arab Saudi telah memberikan fatwa berkenaan dengan sikap yang seharusnya dipegang oleh setiap muslim terhadap hari-hari besar orang kafir.Secara garis besar fatwa yang dimaksud adalah:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sesungguhnya kaum Yahudi dan Nashara menghubungkan hari-hari besar mereka dengan peristiwa-peritiwa yang terjadi dan menjadikannya sebagai harapan baru yang dapat memberikan keselamatan, dan ini sangat tampak di dalam perayaan milenium baru (tahun 2000 lalu), dan sebagian besar orang sangat sibuk memperangatinya, tak terkecuali sebagian saudara kita -kaum muslimin- yang terjebak di dalamnya. Padahal setiap muslim seharusnya menjauhi hari besar mereka dan tak perlu menghiraukannya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Perayaan yang mereka adakan tidak lain adalah kebatilan semata yang dikemas sedemikian rupa, sehingga kelihatan menarik. Di dalamnya berisikan pesan ajakan kepada kekufuran, kesesatan dan kemungkaran secara syar’i seperti: Seruan ke arah persatuan agama dan persamaan antara Islam dengan agama lain. Juga tak dapat dihindari adanya simbul-simbul keagamaan mereka, baik berupa benda, ucapan ataupun perbuatan yang tujuannya bisa jadi untuk menampakkan syiar dan syariat Yahudi atau Nasrani yang telah terhapus dengan datangnya Islam atau kalau tidak agar orang menganggap baik terhadap syariat mereka, sehingga biasnya menyeret kepada kekufuran. Ini merupakan salah satu cara dan siasat untuk menjauhkan umat Islam dari tuntunan agamanya, sehingga akhirnya merasa asing dengan agamanya sendiri.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Telah jelas sekali dalil-dalil dari Al Quran, Sunnah dan atsar yang shahih tentang larangan meniru sikap dan perilaku orang kafir yang jelas-jelas itu merupakan ciri khas dan kekhususan dari agama mereka, termasuk di dalam hal ini adalah Ied atau hari besar mereka.Ied di sini mencakup segala sesuatu baik hari atau tempat yang diagung-agungkan secara rutin oleh orang kafir, tempat di situ mereka berkumpul untuk mengadakan acara keagamaan, termasuk juga di dalam hal ini adalah amalan-amalan yang mereka lakukan. Keseluruhan waktu dan tempat yang diagungkan oleh orang kafir yang tidak ada tuntunannya di dalam Islam, maka haram bagi setiap muslim untuk ikut mengagungkannya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Larangan untuk meniru dan memeriahkan hari besar orang kafir selain karena adanya dalil yang jelas, juga dikarenakan akan memberi dampak negatif, antara lain:&lt;/p&gt; &lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt; Orang-orang kafir itu akan merasa senang dan lega dikarenakan sikap mendukung umat Islam atas kebatilan yang mereka lakukan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dukungan dan peran serta secara lahir akan membawa pengaruh ke dalam batin yakni akan merusak akidah yang bersangkutan secara bertahap tanpa terasa.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Yang paling berbahaya ialah sikap mendukung dan ikut-ikutan terhadap hari raya mereka akan menumbuhkan rasa cinta dan ikatan batin terhadap orang kafir yang bisa menghapuskan keimanan.Ini sebagaimana yang difirmankan Allah Ta’ala, (yang artinya) : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya o-rang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”. (QS. 5:51)&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dari uraian di atas, maka tidak diperbolehkan bagi setiap muslim yang mengakui Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama dan Muhammad sebagai nabi dan rasul, untuk ikut merayakan hari besar yang tidak ada asalnya di dalam Islam, tidak boleh menghadiri, bergabung dan membantu terselenggaranya acara tersebut.Karena hal ini termasuk dosa dan melanggar batasan Allah.Dia telah melarang kita untuk tolong-menolong di dalam dosa dan pelanggaran, sebagaimana firman Allah, (yang artinya) : “Dan tolong-menolonglah kamu di dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertaqwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (QS. 5:2)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tidak diperbolehkan kaum muslimin memberikan respon di dalam bentuk apapun yang intinya ada unsur dukungan, membantu atau memeriahkan perayaan orang kafir, seperti : iklan dan himbauan; menulis ucapan pada jam dinding atau fandel; menyablon/membuat baju bertuliskan perayaan yang dimaksud; membuat cinderamata dan kenang-kenangan; membuat dan mengirimkan kartu ucapan selamat; membuat buku tulis;memberi keistimewaan seperti hadiah/diskon khusus di dalam perdagangan, ataupun(yang banyak terjadi) yaitu mengadakan lomba olah raga di dalam rangka memperingati hari raya mereka. Kesemua ini termasuk di dalam rangka membantu syiar mereka.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kaum muslimin tidak diperbolehkan beranggapan bahwa hari raya orang kafir seperti tahun baru (masehi), atau milenium baru sebagai waktu penuh berkah(hari baik) yang tepat untuk memulai babak baru di dalam langkah hidup dan bekerja, di antaranya adalah seperti melakukan akad nikah,memulai bisnis, pembukaan proyek-proyek baru dan lain-lain. Keyakinan seperti ini adalah batil dan hari tersebut sama sekali tidak memiliki kelebihan dan ke-istimewaan di atas hari-hari yang lain.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dilarang bagi umat Islam untuk mengucapkan selamat atas hari raya orang kafir, karena ini menunjukkan sikap rela terhadapnya di samping memberikan rasa gembira di hati mereka. Berkaitan dengan ini Ibnul Qayim rahimahullah pernah berkata, “Mengucapkan selamat terhadap syiar dan simbol khusus orang kafir sudah disepakati kaha-ramannya seperti memberi ucapan selamat atas hari raya mereka, puasa mereka dengan mengucapkan, “Selamat hari raya (dan yang semisalnya), meskipun pengucapnya tidak terjeru-mus ke dalam kekufuran, namun ia telah melakukan keharaman yang besar, karena sama saja kedudukannya dengan mengucapkan selamat atas sujudnya mereka kepada salib. Bahkan di hadapan Allah, hal ini lebih besar dosanya daripada orang yang memberi ucapan selamat kapada peminum khamar, pembunuh, pezina dan sebagainya. Dan banyak sekali orang Islam yang tidak memahami ajaran agamanya, akhirnya terjerumus ke dalam hal ini, ia tidak menyadari betapa besar keburukan yang telah ia lakukan. Dengan demikian, barang siapa memberi ucapan selamat atas kemaksiatan, kebid’ahan dan lebih-lebih kekufuran, maka ia akan berhadapan dengan murka Allah”. Demikian ucapan beliau rahimahullah!&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Setiap muslim harus merasa bangga dan mulia dengan hari rayanya sendiri termasuk di dalam hal ini adalah kalender dan penanggalan hijriyah yang telah disepakati oleh para shahabat Radhiallaahu anhu, sebisa mungkin kita pertahankan penggunaannya, walau mungkin lingkungan belum mendukung. Kaum muslimin sepeninggal shahabat hingga sekarang (sudah 14 abad), selalu menggunakannya dan setiap pergantian tahun baru hijriyah ini, tidak perlu dengan mangadakan perayaan-perayaan tertentu.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Demikianlah sikap yang seharusnya dimiliki oleh setiap mukmin, hendaknya ia selalu menasihati dirinya sendiri dan berusaha sekuat tenaga menyelamatkan diri dari apa-apa yang menyebabkan kemurkaan Allah dan laknat-Nya. Hendaknya ia mengambil petunjuk hanya dari Allah dan menjadikan Dia sebagai penolong.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(Dinukil dari Fatwa Komisi Tetap untuk Penelitian Ilmiyah dan Fatwa Kerajaan Arab Saudi tentang Perayaan Milenium Baru tahun 2000.&lt;br /&gt;Tertanda&lt;br /&gt;Ketua: Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah Alu Syaikh&lt;br /&gt;Anggota: Syaikh Abdullah bin Abdur Rahman Al-Ghadyan, Syaikh Bakr bin Abdullah Abu Zaid, Syakh Shalih bin Fauzan Al Fauzan)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(Dikutip dari terjemah Kitab A&lt;em&gt;t-Tauhid Lish-Shaffil Awwal Al-Aliy&lt;/em&gt;, Edisi Indonesia, &lt;em&gt;Kitab Tauhid&lt;/em&gt;, Penulis Dr. Shalih bin Fauzan) &lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sumber: http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&amp;amp;id_artikel=384&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7691179376729983196-6716966247596307848?l=artikel-yusnita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artikel-yusnita.blogspot.com/feeds/6716966247596307848/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://artikel-yusnita.blogspot.com/2008/12/hukum-merry-christmas-new-years-days.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7691179376729983196/posts/default/6716966247596307848'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7691179376729983196/posts/default/6716966247596307848'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artikel-yusnita.blogspot.com/2008/12/hukum-merry-christmas-new-years-days.html' title='Hukum Merry Christmas &amp; New Years Days'/><author><name>yusnita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16310528700403292730</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
